Gak Nyangka KSAD Jenderal Dudung Abdurachman Keturunan Wali Songo

KSAD Jenderal Dudung keturunan Wali Songo.

POJOKSATU.id – Jenderal Dudung Abdurachman telah dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada Rabu (17/11/2021).


Bersamaan dengan itu, pangkat Dudung Abdurachman dinaikan satu tingkat dari jenderal bintang tiga (Letjen) menjadi jenderal bintang empat (jenderal).

BACA: Ternyata Jenderal Dudung Menantu Mayjen Cholid Ghozali, Dekat dengan Keluarga Megawati

Pria yang sebelumnya menjabat Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) ini disebut-sebut sebagai keturunan wali.


Wikipedia.org menulis, Dudung Abdurachman lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 16 November 1965. Ia merupakan lulusan Akmil tahun 1988 dari Infanteri.

Disebutkan pula bahwa Jenderal Dudung Abdurachman keturunan Wali Songo.

Jenderal Dudung keturunan Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh Wali Songo yang cukup disegani.

Jenderal Dudung keturunan Sunan Gunung Jati dari Pangeran Sumbu Mangkurat Sari/Pangeran Trusmi (Syarif Wilayatullah) dari jalur putra Pangeran Syeikh Pasiraga Depok, Cirebon dari jalur cicitnya yang bernama Kuwu Muharom Wira Subrata Kepuh.

Sunan Gunung Jati bernama asli Syarif Hidayatullah. Ia sangat dikenal di Pulau Jawa karena merupakan salah satu tokoh Wali Wongo (sembilan wali) yang menjadi teladan hingga saat ini.

Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.

Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai ulama besar di Hadramaut, Yaman.

Bahkan silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain.

Sedangkan ibunya adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Mudaim), yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja dari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana.

Berdasarkan catatan Henri Chambert-Loir Naik Haji di Masa Silam – Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji (1482 – 1964) Jilid I (1482 – 1890) yang mengutip teks Jawa bertajuk Sejarah Banten Rante-Rante.

Dari caatan itu terungkap tentang perjalanan Sunan Gunung Jati naik haji saat usianya baru 15 tahun.

Sebagai seorang anak saudagar di Pasai, Sunan Gunung Jati pergi ke Mekah untuk belajar.

Setelah baik haji, Sunan Gunung Jati memutuskan untuk kembali ke Nusantara (Jepara) karena bemimpi bertemu dengan Nabi Muhammad.

Sunan Gunung Jati diminta untuk kembali ke Jawa dan mengislamkan orang Jawa.

Dikisahkan, saat kedua kali naik haji, Sunan Gunung Jati pergi bersama puteranya bersama Hasanudin.

Saat itu, Sunan Gunung Jati berumur 20 tahun. Dia membawa Hasanudin dalam sebuah selendang.

Di tanah suci Hasanudin diajari tentang semua hal terkait soal Islam khususnya tarekat.

Di Madinah keduanya dibaiat tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian keduanya pulang ke Jawa melalui jalur Minangkabau. (one/pojoksatu)