Waspadai Virus Corona Varian AY 4.2, Testing Dan Tracing Jangan Kendor!

dr RA Adaninggar Primadia Nariswari SpPD alias dr Ning. (dok dr RA Adaninggar).
dr RA Adaninggar Primadia Nariswari SpPD alias dr Ning. (dok dr RA Adaninggar).

POJOKSATU.id – Virus Corona varian AY 4.2 telah masuk di negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Varian AY 4.2 merupakan virus varian Delta yang dikenal dengan Delta Plus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya menyatakan varian AY 4.2 sebagai ‘variant of interest’ atau varian yang menarik perhatian.

Meskipun begitu, WHO menyebutkan bahwa varian AY 4.2 ini bukan varian yang menjadi kekhawatiran.


Dilansir dari The Star, varian AY 4.2 termasuk di antara 75 jenis turunan yang berasal dari varian Delta virus Corona.
Varian AY 4.2 adalah kombinasi dari varian AY 4 Delta dan mutasi spike protein S:Y145H

Varian ini pertama kali diidentifikasi oleh para ilmuwan Inggris pada bulan Agustus lalu.

Saat ini para ilmuwan sedang memantau varian terkait delta yang dikenal dengan AY 4.2 ini untuk melihat apakah varian ini menyebar lebih mudah atau lebih mematikan daripada varian virus corona sebelumnya.

Sejauh ini, belum ditemukan kasus Corona varian AY 4.2 di Indonesia.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr RA Adaninggar SpPD meminta masyarakat untuk tidak panik, tapi tetap waspada.

“Ini varian virus turunan Delta. Gak perlu panik dulu ya. Varian ini belum banyak di dunia. Belum terbukti lebih cepat menular,” ucap dr RA Adaninggar, Kamis (11/11).

BACA: Profil dr RA Adaninggar SpPD, Edukator Hoaks Covid-19

Dokter yang akrap dipanggil dr Ning ini menambahkan, varian AY 4.2. belum terbukti menyebabkan penyakit lebih berat.
Varian tersebut belum masuk VOI/VOC, masih Variant Under Investigation (VUI).

“Waspada HARUS! tapi panik JANGAN!,” tegas dr Ning.

Yang penting, kata dr Ning, langkah pencegahan dan antisipasi tetap dilakukan, seperti menjaga perbatasan negara.

Selain itu, testing dan tracing serta vaksinasi terus dilakukan.

“Testing dan tracing jangan kendor. Percepat vaksinasi terutama untuk orang rentan,” tandas dr Ning. (one/pojoksatu)