Kritisi Hadis Bukhari, Buya Syakur: Jangan Takut Murtad

Buya Syakur.

Dua kitab hadis shahih yang ditulis al-Bukhari dan Muslim (al-Shahihain) merupakan dua kitab hadis yang paling populer di kalangan umat Islam hingga sekarang.

Kitab tersebut diakui sebagai kitab yang paling autentik setelah al-Quran.

Meskipun dua kitab hadis shahih tersebut memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan hampir semua ulama hadis sepakat akan keautentikan hadis-hadis dalam kedua kitab tersebut, ternyata kedua kitab hadis ini tidak luput dari adanya kritik.

Marzuki dalam tulisannya berjudul “Kritik Terhadap Kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim” sempat mengulas tentang kritik dari dua orientalis terhadap kitab hadis Bukhari dan Muslim.


Ia mengatakan pada akhir abad ke-19 Masehi umat Islam dikejutkan dengan penelitian seorang orientalis terkenal kelahiran Hungaria, Ignaz Goldziher, tentang hadis Nabi.

Dalam penelitiannya yang berjudul Mohammedanische Studien, Goldziher membantah otentisitas hadishadis yang selama ini dipegangi oleh umat Islam.

Menurutnya hadis Nabi tidak lebih dari produk perkembangan keadaan sosial politik Islam pada waktu itu.

Apa yang dilakukan oleh Goldziher juga diikuti oleh orientalis lainnya, seperti Joseph Schacht.

Dalam salah satu karyanya The Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950), Schacht juga meragukan otentisitas hadis-hadis Nabi, khususnya hadis-hadis hukum (fikih).

Dari kajian kritis para orientalis terhadap hadis-hadis Nabi seperti yang dilakukan oleh Goldziher dan Schacht, para ulama hadis tertantang untuk melakukan penelitian.

Salah satu ulama yang melakukan penelitian kritis terhadap hadis-hadis Nabi adalah Prof Dr Muhammad Musthafa A’zhami, guru besar Ilmu Hadis Universitas King Saud Riyadh Saudi Arabia.

Hasil penelitiannya tentang hadis-hadis Nabi pada tahun 1967 tersebut kemudian dibukukan dengan judul Sudies in Early Hadith Literature (1968).

Salah satu temuan A’zhami adalah bahwa hadis Nabi sudah ditulis pada waktu Nabi Muhammad Saw masih hidup, dan tuduhan Goldziher dan Schacht tidak lebih hanya sekedar isapan jempol belaka.

Dengan kata lain apa yang dituduhkan oleh dua orientalis terkemuka itu tidak terbukti. (one/pojoksatu)