Saksi KM 50 Ungkap 2 Laskar FPI Diseret Keluar dari Mobil, ‘Tak Sadarkan Diri, Badannya Kaku’

Briptu Fikri Ramadhan penembak laskar FPI disidang (detikcom)

POJOKSATU.id, JAKARTA— Dua saksi yang merupakan pedagang di rest area KM 50 Jalan Tol Jakarta -Cikampek memberikan kesaksian di PN Jaksel soal penembakan laskar FPI.


Euis Asmawati dan Ratih adalah penjaga warung Megarasa di Rest Area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Kedua pedagang ini dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan unlawful killing laskar Front Pembela Islam (FPI) dengan terdakwa Briptu Fikri Ramadhan di PN Jaksel.

Dalam persidangan melalui daring, mereka mengaku pada saat kejadian di Rest Area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek, melihat beberapa senjata tajam yang dikeluarkan dari mobil Chevrolet Spin, mobil yang terdapat enam laskar FPI di dalamnya.


“Kalau saya lihat ada 4 samurainya, enggak lihat lagi ada apa,” kata Euis saat sidang yang dihadirkan melalui daring di PN Jakarta Selatan, Selasa (26/10).

Senada dengan Euis, Ratih juga membenarkan jika dirinya yang kala itu sedang menjaga warungnya sempat mendengar suara decitan mobil ngerem mendadak.

Ratih lantas menghampiri lokasi kejadian perkara di KM 50 Tol Cikampek itu.

Ada empat orang yang masih hidup disuruh keluar dari dalam mobil dan disuruh tiarap di aspal.

Selepas itu, Ratih mengatakan, laki-laki yang membawa pistol itu menyeret dua orang yang ternyata masih berada di dalam mobil Spin abu-abu.

“Orang kelima, itu diseret dari dalam mobil,” ujar Ratih.

Ia mengaku tak secara jelas melihat kondisi orang kelima yang diseret keluar dari Chevrolet Spin itu apakah mengalami luka-luka atau tidak.

Tetapi, Ratih mencirikan orang kelima yang diseret keluar berbadan kurus.

“Badannya sudah kaku,” terang Ratih.

Masih dari dalam mobil Chevrolet Spin, Ratih juga melihat orang keenam yang juga diseret keluar.

Kondisi orang keenam tersebut,  kata Ratih seperti sudah tak sadarkan diri saat diseret keluar.

Saat orang kelima dan keenam yang diseret keluar dari mobil tersebut, kata Ratih, dari empat yang dalam kondisi tiarap, mengencangkan kata-kata kepada laki-laki si pemegang pistol itu.

“Jangan diapa-apain teman saya,” begitu tiru Ratih.

Selanjutnya, Ratih mengatakan, satu persatu empat yang tiarap itu diminta untuk jongkok ke belakang mobil Daihatsu Xenia, mobil yang dikendarai oleh laki-laki bersenjata pistol.

“Semuanya disuruh masuk dari belakang (mobil B 1519 UTI),” ujar Ratih.

Dua orang yang tak berdaya tadi, pun dipaksakan masuk ke dalam mobil tersebut dengan cara digotong.

Selepas itu, Ratih tak mengetahui apa yang terjadi terhadap total enam orang yang berada dalam satu mobil itu.(ral/int/pojoksatu)