2 Pedagang Rest Area KM 50 Bersaksi di Sidang Laskar FPI, ‘Kalau Saya Lihat Ada 4 Samurainya’

Habib Rizieq Shihab langsung ditahan usai 14 jam menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Sabtu (12/12/2020). Foto Repro

POJOKSATU.id, JAKARTA— Dua pedagang rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek memberikan kesaksian di persidangan soal peristiwa penembakan laskar FPI.


Euis Asmawati dan Ratih adalah penjaga warung Megarasa di Rest Area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Kedua pedagang ini dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan unlawful killing laskar Front Pembela Islam (FPI) dengan terdakwa Briptu Fikri Ramadhan di PN Jaksel.

Dalam persidangan, mereka mengaku pada saat kejadian di Rest Area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek, terlihat beberapa senjata tajam yang dikeluarkan dari mobil Chevrolet Spin, mobil yang terdapat enam laskar FPI di dalamnya.


“Kalau saya lihat ada 4 samurainya, enggak lihat lagi ada apa,” kata Euis saat sidang yang dihadirkan melalui daring di PN Jakarta Selatan, Selasa (26/10).

Senada dengan Euis, Ratih juga membenarkan jika dirinya yang kala itu sedang menjaga warungnya sempat mendengar suara decitan mobil ngerem mendadak.

Ratih lantas menghampiri lokasi kejadian perkara di KM 50 Tol Cikampek itu.

“Ada seorang memakai celana pendek bawa pistol, pistolnya mengetuk pintu (mobil Chevrolet Spin) suruh keluar. ‘Keluar keluar’,” jelasnya.

“Terus keluar sendiri pintu sebelah kiri yang keluar 4 orang, satu-satu keluar, terus disuruh tiarap,” kata Ratih.

Ketika melihat ke lokasi, Ratih melihat ada empat orang dari mobil Chevrolet Spin yang keluar.

Disusul seorang rekan pria pemegang senjata api ikut menggeledah isi mobil.

Dari hasil geledah itu Ratih melihat ada gawai dan senjata tajam yang diamankan.

“4 Orang yang ditiarap. HP yang diambil, ada 4 HP yang diambil, yang memeriksa saya lupa berapa orang soalnya sudah lama,” katanya.

“Yang di dalam mobil diperiksa, ada dua orang, berpakaian biasa tidak membawa pistol,” ujarnya.

“Cuma satu yang bawa pistol yang celana pendek.Yang diambil samurai, yang saya lihat 1. Tidak memperhatikan lagi barang apa (yang diambil),” lanjutnya.

Sementara usai mengambil gawai dan senjata tajam, kata Ratih, orang yang menggeledah mobil tersebut langsung menaruh barang-barang itu di meja warung.

Untuk kemudian meminta beberapa kantong plastik.

“Di meja tempat makan, ke warung minta plastik di taruh di depan meja warung. Samurai ditaruh di meja depan warung,” sebutnya.

Sebelumnya, dalam berkas dakwaan, terungkap bahwa enam anggota Front Pembela Islam (FPI) meninggal dunia atau tewas pada peristiwa ini.

Adapun, dua diantaranya Faiz Ahmad Syukur dan Andi Oktiawan tewas seketika usai baku tembak di Jalan Interchange atau Jalan International Kabupaten Karawang.

Sementara, empat lainnya yakni Lutfi Hakim, Muhamad Suci Khadavi Poetra, Akhmad Sofiyan dan M Reza meninggal di dalam mobil saat dibawa ke Polda Metro Jaya.

Jaksa menerangkan, keenam anggota FPI diamankan di Rest Area Km 50. Ketika itu sedang berada di mobil Chevrolet Spin abu-abu.

Jaksa mengungkapkan, Briptu Fikri Ramadhan mendapati dua anggota FPI yakni Faiz Ahmad Syukur dan Andi Oktiawan sudah tak bernyawa.

Sementara untuk keempat anggota laskar lainnya telah dipindahkan ke mobil lain.

Sedangkan karena ketika dalam perjalan keempat laskar tersebut diduga melawan, akhirnya Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda Mohammad Yusmin Ohorella mengambil tindakan menembak keempat laskar yang berbuntut perkara unlawful killing.

Atas perbuatannya, Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda Mohammad Yusmin Ohorella didakwa dengan dakwaan primer Pasal 338 dan dakwaan Subsidair Pasal 351 ayat 3 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Pasal 338 KUHP merupakan pembunuhan biasa dan bukan pembunuhan berencana. (ral/int/pojoksatu)