Vaksin Sinovac China Kurang Ampuh, Thailand Hentikan Pembelian, Bagaimana Indonesia?

Vaksin Sinovac

POJOKSATU.id, JAKARTA— Thailand menganggap vaksin Sinovac buatan China kurang ampuh dan akan segera menghentikan pembelian dari China jika persedian mereka sudah habis.


Pengumuman penghentian pembelian vaksin Sinovac ini disampaikan Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand.

Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand menegaskan bahwa pihaknya tidak akan lagi menggunakan vaksin Covid-19 Sinovac jika persediaan yang ada saat ini habis.

Thailand sudah menggunakan lebih dari 31,5 juta dosis Sinovac sejak Februari 2021.


Dimulai dengan dua dosis untuk pekerja garis depan, kelompok berisiko tinggi, dan penduduk pulau wisata Phuket, saat pulau itu dibuka kembali untuk turis dalam skema percontohan.

Pada Juli 2021, Thailand menjadi negara pertama yang menginokulasi orang dengan Sinovac sebagai dosis pertama diikuti oleh AstraZeneca yang dikembangkan Universitas Oxford.

Sebuah strategi yang menurut pejabat kesehatannya di sana terbukti efektif melawan virus Covid-19.

“Kami berharap telah mendistribusikan semua dosis Sinovac minggu ini,” kata Opas Karnkawinpong, Direktur Jenderal Departemen Pengendalian Penyakit, seperti dikutip dari Bangkok Post, Senin (18/10).

Sebagai gantinya, Thailand akan menggabungkan vaksin AstraZeneca dengan yang dibuat oleh Pfizer dan BioNTech.

Menurut rencana, tahun depan Thailand akan membeli total 120 juta dosis vaksin Covid-19 dan telah memesan 60 juta dosis AstraZeneca, vaksin yang diproduksi secara lokal.

Thailand mengatakan hanya akan menggunakan vaksin yang efektif melawan varian baru.

Sejauh ini Thailand telah memvaksinasi 36 persen dari perkiraan 72 juta orang yang tinggal di Thailand dan berharap mencapai 70 persen pada akhir tahun.

Thailand terus maju dengan rencana pembukaan kembali bebas karantina yang akan dilakukan mulai bulan depan di 17 provinsi untuk setiap pelancong yang sudah divaksin dari negara-negara berisiko rendah.

Thailand telah mencatat hampir 1,8 juta kasus dan 18.336 kematian secara keseluruhan, lebih dari 98 persen dalam tujuh bulan terakhir. (ral/rmol/pojoksatu)