Realisasi Investasi Tinggi di Tengah Pandemi, Jabar Optimis Pemulihan Ekonomi Terealisasi

Webinar Komite Pemilihan Ekonomi Daerah (KPED) bertajuk 'Peran Startegis Jawa Barat dalam Memulihkan Ekonomi', Senin (18/10/2021).

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kepala BI Jabar Herawanto menuturkan, investasi di Jabar memberikan sumbangan pada perekonomian Jawa Barat sebesar 24,88 persen atau komponen signifikan terbesar kedua setelah konsumsi.


Catatan tersebut berdasarkan data produk domestik regional bruto (PDRB) yang mengindikasikan peningkatan investasi sehingga memberi daya dorong yang kuat bagi akselerasi pemulihan ekonomi Jabar.

Menurutnya, tingginya realisasi investasi di Jabar di tengah pandemi Covid-19 ini didudukung setidaknya oleh tiga hal.

Itu dismapaikan Herawanto dalam Webinar Komite Pemilihan Ekonomi Daerah (KPED) bertajuk ‘Peran Startegis Jawa Barat dalam Memulihkan Ekonomi’, Senin (18/10/2021).


“Yakni infrastruktur yang memadai, SDM yang mumpuni, serta dukungan pemerintah daerah seperti kemudahan perizinan dan promosi investasi salah satunya melalui kegiatan West Java Investment Summit (WJIS) 2021,”

Pada 2020, Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Jabar tercatat 4 persen, jauh lebih baik dibandingkan dengan nasional 6,8 persen.

Hal ini didukung ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang relatif lebih baik dibandingkan berbagai provinsi lain di Indonesia.

Infrastruktur ini menjadi daya tarik investor untuk menanamkan modal di Jawa Barat.

Antara lain kawasan industri, jalan tol, jalur kereta api, bandara, dan pelabuhan yang terus dikembangkan.

“Serta dukungan kebijakan dan berbagai insentif yang memberikan kemudahan bagi investor,” bebernya.

Berdasarkan ICOR tersebut, berinvestasi di Jabar relatif lebih efisien, yakni untuk menambah satu persen pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat.

Hanya saja, diperlukan peningkatan investasi sekitar 4 persen.

Efisiensi investasi ini menyebabkan Jawa Barat menjadi kontributor utama investasi nasional.

Pada semester I/2021 realisasi investasi Jabar merupakan yang tertinggi secara nasional mencapai Rp72,50 triliun bersumber dari PMA 61,06 persen dan PMDN 38,94 persen.

Adapun mayoritas investasi dikucurkan untuk sektor perumahan dan kawasan industri, industri otomotif, transportasi, serta konstruksi.

“Khusus untuk PMA negara asal investor cukup beragam antara lain berasal dari Korea Selatan, Jepang, China, Belanda, dan Singapura,” ujarnya.

WJIS sendiri merupakan hasil kolaborasi Bank Indonesia dengan Pemda Provinsi Jabar melalui Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) yang telah dilakukan dan sukses sejak 2019.

Tahun 2021 WJIS mengusung tema “Navigating Post – Covid World: Investment Growth for Resilient West Java”, the 3rd WJIS 2021 dan akan diselenggarakan pada 21-22 Oktober 2021.

WJIS 2021 masih akan menawarkan proyek potensial di kawasan Rebana dan beberapa potensi investasi di sektor pariwisata, kawasan industri, dan UMKM.

Yang merupakan kerja sama dengan Dinas Pariwisata, Himpuan Kawasan Industri (HKI) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Sentara itu, Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Barat Noneng Komara mengatakan target total investasi Jabar tahun ini adalah sebesar Rp127 triliun. Untuk merealisasikannya salah satunya melalui kegiatan WJIS.

Menurut Noneng, sebanyak 30 proyek akan ditawarkan dalam WJIS dengan nilai proyek mencapai Rp41 triliun.

Sudah ada penandatanganan MoU antara BUMD dan pemda dengan investor senilai Rp6,5 triliun.

“Kita juga diamanatkan mengawal 11 proyek strategis dengan nilai Rp150 triliun, salah satunya dari Hyundai,” ungkapnya.

“Dengan Perpres Rebana dan Jabar selatan, perlu investasi Rp392 triliun. Jadi sebenarnya kita mengawal investasi hampir Rp717 triliun dalam beberapa tahun kedepan,” ungkapnya. (fir/pojoksatu)