Keluarga Gadis Halmahera Tengah yang Diperkosa Bergiliran Desak Polres Kenakan Pasal Hukuman Mati

Warga mengantar jenazah NU, gadis 18 tahun di Halmahera Tengah yang meninggal dunia usai diperkosa diduga oleh 12 orang. Foto Twitter @Ghara_H4L3Y0r4

POJOKSATU.id, HALMAHERA— Ratusan warga dan pihak keluarga korban pemerkosaan di Halmahera Tengah (Halteng) mendatangi Polres Halteng. Mereka meminta para pelaku dihukum mati.


Ratusan warga dan pihak keluarga korban pemerkosaan gadis berumur 18 tahun di Desa Lelief, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, ini mendatangi Polres Halteng beberapa hari lalu.

Ratusan warga dan keluarga korban mendesak pihak kepolisian setempat menghukum mati ke enam pemuda terduga aksi perkosaan terhadap korban berinisial NU ini.

Kejadian memilukan ini terjadi pekan lalu di sebuah kamar kontrakan di Desa Lelief, Halmahera Tengah, Malut.


Aksi bejat tersebut diketahui dilakukan oleh pacar korban sendiri dan lima pemuda lainnya. Dimana korban disekap dan diperkosa secara bergantian.

Para pelaku diketahui dalam pengaruh minuman keras.

Akibat perbuatan bejat tersebut korban mengalami trauma hebat, kondisinya menurun sehingga dilarikan ke RSUD Sofifi.

Namun setelah beberapa hari mendapat perawatan medis kondisi korban drop dan akhirnya meninggal dunia.

Kasus tersebut dilaporkan keluarga korban ke Polres Halteng.

Tak lama kemudian, pacar korban dan tiga pemuda diduga pelaku langsung diringkus polisi.

Mereka berinisial DN (22) pacar korban, DK , OG (21) dan HN (22).

Sementara dua pelaku lainnya masih buron karena melarikan diri.

“Tuntutan kita bahwa ada hukuman maksimal oleh Polres Halmahera Tengah kepada para tersangka, yaitu hukuman mati,” tegas Sunarwan Mohtar, keluarga korban.

Kapolres Halmahera Tengah,AKBP Nico Setiawan mengatakan akan mengakomodir tuntutan keluarga korban dengan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada para pelaku.

“Pada prinsipnya komitmen saya, bahwa proses ini kami serius dan kami jalankan,” jelasnya.

“Kami sudah berencana melakukan gelar perkara untuk penambahan pasal, dari yang sebelumnya pasal pemerkosaan sekarang korban meninggal dunia, untuk mendukung hukuman yang seberat-beratnya pada para pelaku,” kata AKBP Nicko lagi. (ral/int/pojoksatu)