Hoax, Riset di Israel Sebut Orang yang Divaksin 13 Kali Berisiko Terinfeksi Covid-19

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil bersama pimpinan Forkopimda saat meninjau pelaksanaan vaksinasi bagi pelajar di SMP Negeri 6 Kota Tasikmalaya, Sabtu (11/9/2021). (Foto: Biro Adpim Jabar)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sebuah video di media sosial TikTok menyebutkan orang yang sudah mendapat suntik vaksin Covid-19 berisiko 13 kali lebih besar terinfeksi Covid-19.

Sebaliknya, mereka yang memiliki kekebalan alami disebut jauh lebih aman dari terpapar Covid-19.

Salah satu akun yang mengunggah video itu adalah @pejuangmaya2.

Dalam video itu, diperlihatkan potongan wawancara dalam sebuah televisi yang memaparkan hasil riset di Israel.


Faktanya, studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) malah menunjukkan hasil sebaliknya.

Studi CDC itu malah menunjukkan bahwa mereka yang tidak divaksin, malah 11 kali lebih besar meninggal dunia akibat Covid-19, dibanding yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19.

Dikutip dari CNBC Internasional, penelitian CDC itu melakukan pengamantan kasus infeksi corona, rawat inap, dan kematian di 13 negara bagian.

“Menemukan bukti lebih lanjut tentang kekuatan vaksinasi,” ujar Direktur CDC Dr Rochelle Walensky, Sabtu (11/9/2021).

Penelitian ini menganalisis 600 ribu kasus Covid-19 dari April sampai pertengahan Juli dengan status vaksinasi.

Hasilnya, merkea yang tidak divaksin 4,5 kali berisiko terpapar Covid-19, 10 kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit dan 11 kali lebih mungkin meninggal dunia akibat Covid-19.

Temuan ini sejalan dengan penelitian CDC sebelumnya, dari 43.127 kasus Covid-19 di di Los Angeles County antara Mei dan Juli.

Hasilnya, mereka yang tidak divaksinasi lima kali lebih mungkin tertular dan 29 kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit.

Sementara, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Ahmad Hadadi Menyebut, hoax vaksin dan penanganan Covid-19 memang lebih banyak disebarkan melalui media sosial.

Hoax juga diakuinya cukup memberikan pengaruh pada cara pandang dan penilaian masyarakat.

Karena itu, pihaknya bekerjasama dengan media agar bersama-sama menangkal hoax. Baik terkait vaksin Covid-19 maupun penanganan Covid- 19.

“Karena vaksin Covid-19 ini bisa menciptakan herd immunity (kekebalan komunal) sehingga diharapkan pandemi bisa secepatnya berlalu,” tuturnya.

Ahmad Hadadi juga meminta masyarakat agar lebih cermat dan bijak. Baik dalam bermedsos maupun menyaring informasi.

“Jangan langsung percaya begitu saja. Sebaiknya dicek kebenarannya melalui sumber yang terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan,” imbaunya.

Diyakini, dengan semakin banyak masyarakat yang sudah divaksin, maka semakin cepat pandemi menjadi endemi.

“Dengan kegiatan vaksin, diharapkan semua sektor segera bangkit dan pulih serta bisa kembali normal,” ujarnya.

Terpisah, Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam setiap kesempatan meminta seluruh stakeholder agar memberi pemahaman soal vaksin agar masyarakat terhindar dari hoax.

“Semua harus ikut berperan. Makanya sekarang kita sedang melakukan percepatan vaksinasi di seluruh Jawa Barat,” kata Ridwan Kamil. (ruh/pojoksatu)