Seteru Yusril dengan Jimly Berlanjut, Yusril Ihza Mahendra: Di Mana Etika Prof Jimly?

Yusril Ihza Mahendra. Foto net

POJOKSATU.id, JAKARTA— Seteru Prof Jimly Asshiddiqie dengan Yusril Ihza Mahendra berlanjut. Yusril menuding Jimly meninggalkan legasi yang memalukan saat memimpin Mahkamah Konstitusi (MK).

Pernyataan Jimly Asshiddiqie yang menyindir etika kepantasan seorang advokat menjadi ketum partai politik dibalas oleh Yusril Ihza Mahendra.

Yusril menyinggung etika kepantasan saat anggota DPD RI Jimly Asshiddiqie menjabat sebagai Ketua MK.

Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra kini menjadi kuasa hukum Demokrat kubu Moeldoko dan akan menggugat AD/ART Partai Demokrat ke Mahkamah Agung.


Dalam balasan Yusril kepada Jimly, Yusril menuding Jimly telah meninggalkan warisan atau legasi yang memalukan saat memimpin Mahkamah Konstitusi (MK).

Tepatnya saat Jimly membatalkan UU Komisi Yudisial yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi etik dan perilaku hakim.

“Sehingga KY tidak bisa mengawasi hakim MK. Ini legasi paling memalukan dalam sejarah hukum kita ketika Prof Jimly menjadi Ketua MK,” kata Yusril kepada wartawan, Minggu (3/10).

Disebut memalukan lantaran Jimly sebagai pihak berkepentingan dengan perkara ini tetap turun menangani.

Padahal, UU Kekuasaan Kehakiman tegas memerintahkan agar hakim mundur menangani perkara jika yang bersangkutan berkepentingan dengan perkara itu.

“Di mana etika Prof Jimly?” imbuhnya.

Seharusnya, kala itu hakim MK tegas menyatakan tidak berwenang memeriksa perkara yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

Tapi tidak ada seorang hakim pun yang mengemukakan dissenting opinion dengan mengatakan tidak etis MK menguji UU yang para hakim MK sendiri berkepentingan dengannya.

“Tokoh pengujian materil bukan hanya bisa dilakukan MK, legislatif review juga bisa,” jelasnya.

“Akan lebih memenuhi ‘etika kepantasan’ jika menyatakan ‘tidak berwenang’ memeriksa dan memutus perkara tersebut dan menyerahkannya kepada legislative review,” jelasnya. (ral/rmol/pojoksatu)