Sesama Satria Sapta Marga, Letjen Dudung dan Jenderal Purn Gatot Nurmantyo Perlu Duduk Bareng

Presidium KAMI Gatot Nurmantyo. Foto: Youtube Refly Harun

POJOKSATU.id, JAKARTA— Politisi PKB Daniel Johan berharap Jenderal Purn Gatot Nurmantyo bertemu dengan Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman berdiskusi bareng masalah patung Soeharto di Kostrad.

Legislator PKB ini berharap Gatot Nurmantyo bertemu dengan Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman, untuk berdiskusi mengenai masalah patung Soeharto di Kostrad.

“Pak Gatot dan Pak Dudung sesama satria sapta marga perlu duduk ngopi bareng,” kata Anggota DPR dari Fraksi PKB, Daniel Johan, kepada wartawan, Kamis (30/9/2021) malam.

Daniel mengatakan semua pihak menaruh hormat kepada Sukarno dan Soeharto. Dia mengingatkan Sukarno-Hatta merupakan proklamator dan posisi keduanya tak akan pernah bisa digantikan.


“Kita hormat kepada segenap Presiden termasuk Bung Karno dan Pak Harto,” jelasnya.

“Tapi karena Sukarno-Hatta adalah juga proklamator Republik Indonesia sehingga memiliki kekhususan dan tidak bisa dibandingkan,” jelasnya.

“Karena Indonesia akan terus memiliki Presiden yang baru sementara proklamator kita sampai kapan pun ya hanya Sukarno-Hatta,” ujarnya lagi.

Politisi PKB ini menganggap pernyataan Gatot Nurmantyo mengenai patung Sukarno ada di mana-mana, namun patung Soeharto tak ada, harus dinilai sebagai masukan.

Dia berharap TNI makin solid.

“Tapi apa yang dirasakan Pak Gatot anggap saja sebagai masukan, apalagi sesama jenderal penegak sapta marga,” jelasnya.

“Apalagi kita selalu membutuhkan institusi TNI yang solid, satria, dan terdepan dalam melindungi rakyat bangsa dan negara, hal ini yang harus selalu diwujudkan,” jelasnya.

Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo sebelumnya menyoroti keberadaan patung Presiden RI ke-2 Soeharto yang seakan-akan hilang dari peredaran.

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo membandingkan keberadaan patung Proklamator Sukarno dan Presiden RI ke-2 Soeharto usai patung Soeharto dkk di Markas Kostrad, Gambir, dibongkar.

Gatot menyoroti itu ketika ditanya tentang harapan Gatot usai peristiwa hilangnya hilangnya patung Soeharto dkk di Markas Kostrad.

“Ya saya tetap berpikir positif bahwa karena Kostrad itu adalah tulang punggung, pada saat 65 (1965) dan seterusnya, untuk menjaga,” jelas Gatot dalam acara Karni Ilyas yang disiarkan Karni di akun YouTube-nya.

“Karena justru museum itu ada di Kostrad itu adalah bentuk pewarisan sejarah, agar semua prajurit Kostrad itu tahu dan sadar, bahwa panglimanya seperti itu, kemudian Kostrad seperti itu, sehingga suatu saat operasi pasti dia paling depan Kostrad,” kata Gatot dalam YouTube Karni Ilyas seperti dilihat, Kamis (30/9). (ral/int/pojoksatu)