Politisi PDIP Akhirnya Tanggapi Gatot Nurmantyo, ‘Kita Pernah Alami Era Peran dan Jasa Bung Karno Didegradasi’

Presidium KAMI Gatot Nurmantyo. Foto: Youtube Refly Harun

POJOKSATU.id, JAKARTA — Elite PDIP Hendrawan Supratikno menanggapi pernyataan Gatot Nurmantyo yang membandingkan patung Soekarno yang ada dimana-mana, sementara patung Soeharto hilang dari Kostrad.

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo merasa ironis gara-gara patung Sukarno ada di mana-mana, sementara patung Presiden RI ke-2 Soeharto dkk hilang dari Markas Kostrad.

Hendrawan awalnya menjelaskan patung tidak bisa dipahami seperti fesyen. Patung tokoh nasional, kata Hendrawan, merupakan wujud dari literasi sejarah masyarakat.

“Keberadaan patung tidak boleh dipahami seperti kita memahami mode atau fesyen, tetapi makna simbolik yang dipancarkan,” jelas Hendrawan kepada wartawan, Kamis (30/9/2021) malam.


“Dalam alam demokrasi, ketika akses terhadap informasi tidak terdistorsi, ketika memori kolektif masyarakat mengalami proses penjernihan, patung mengekspresikan literasi historis masyarakat,” katanya lagi.

Anggota DPR RI ini kemudian mengungkit masa lalu di mana ada upaya mendegradasi peran Sukarno dalam sejarah bangsa Indonesia.

Dia menyebut upaya itu dilakukan demi melanggengkan kekuasaan.

“Kita pernah mengalami era di mana peran dan jasa Bung Karno berusaha didegradasi. Politik sejarah diintervensi kepentingan pelanggengan kekuasaan. Di era terbuka seperti sekarang, masyarakat rindu terhadap orientasi kebangsaan yang otentik, kepada narasi negara bangsa yang orisinal,” kata dia.

Hendrawan mengatakan jumlah patung tak bisa dijadikan parameter apapun.

“Jadi bukan parameter jumlah, tapi parameter psikososial dan histeriografi negara bangsa,” kata dia.

Dia meminta ada upaya menyimpulkan telah terjadi ‘de-Soehartoisasi’ di dalam pernyataan Gatot soal patung Sukarno dan Soeharto.

Dia menyebut pernyataan Gatot itu membuat seolah-olah kondisi saat ini sama seperti era di mana peran Sukarno didegradasi dalam sejarah bangsa.

“Jadi jangan disimpulkan bahwa sekarang terjadi de-Soehartoisasi seperti yang disiratkan dari pernyataan GN (Gatot Nurmantyo). Seolah-olah ini sama dengan de-Sukarnoisasi yang nyata terjadi di masa lalu,” kata dia.

Diketahui, Gatot Nurmantyo menyoroti keberadaan patung Soeharto yang seakan-akan hilang di peredaran.

Gatot menyoroti itu ketika ditanya tentang harapan Gatot usai peristiwa hilangnya hilangnya patung Soeharto dkk di Markas Kostrad.

“Ya saya tetap berpikir positif bahwa karena Kostrad itu adalah tulang punggung, pada saat 65 (1965) dan seterusnya, untuk menjaga,” jelas Gatot dalam acara Karni Ilyas yang disiarkan Karni di akun YouTube-nya.

“Karena justru museum itu ada di Kostrad itu adalah bentuk pewarisan sejarah, agar semua prajurit Kostrad itu tahu dan sadar, bahwa panglimanya seperti itu, kemudian Kostrad seperti itu, sehingga suatu saat operasi pasti dia paling depan Kostrad,” kata Gatot dalam YouTube Karni Ilyas seperti dilihat, Kamis (30/9).

Gatot kemudian bicara mengenai keberadaan patung Soeharto. Menurut Gatot, perlu ada patung Soeharto yang juga berjasa untuk Indonesia.

“Nah ini, tiga-tiganya mengusik kebangsaan saya, sosok Sarwo Edhie, saya juga prajurit komando, Pak Harto (Soeharto), saya juga mantan Pangkostrad, Pak AY (Azmyn Yusri) Nasution juga mantan KSAD, beliau-beliau inilah contoh, panutan, tentang bagaimana perjuangan, bagaimana cara berpikir, bagaimana cara merencanakan mengambil keputusan yang efisien,” jelasnya.

“Sehingga dalam waktu yang sesingkat-singkatnya bisa memutarbalikkan. Ini kan suatu hal sangat strategis bagi bukan hanya TNI, keluarganya, maupun masyarakat,” tutur Gatot.

“Bung Karni, di mana-mana patung Bung Karno ada, bahkan nama Sukarno-Hatta jalan ada, Pak Harto mantan presiden ada jasanya juga, mana sih ada patung? Hanya patung kecil seperti itu pun musnah,” jelasnya.

“Ini kan suatu hal yang sangat ironis,” lanjutnya (ral/int/pojoksatu)