Soal Pembongkaran Patung Penumpasan PKI, PKS Minta Selidiki Motifnya, Jangan-jangan..

Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera. Foto: Mufit/PojokSatu.id

POJOKSATU.id, JAKARTA- Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera turut angkat bicara terkait hilangnya patung diorama dari Mesum Dhrama Bhakti Kostrad.


Menurutnya, hal tersebut perlu diselidiki lebih mendalam motif hilangnya patung bagian dari peristiwa penumpasan PKI tersebut.

“Perlu diselidiki siapa dan apa motifnya patung itu dibongkar,” kata Mardani saat dihubungi Pojoksatu.id di Jakarta, Selasa (28/9/2021).

Sebab, lanjut anggota Komisi II DPR RI itu, jika motif hilangnya patung diorama tersebut tidak secara jelas dan masuk, dikhawatirkan akan menimbulkan kegaduhan di tengah publik.


“Publik perlu tahu motifnya, harsu masuk akal juga, jangan buat gaduh,” tuturnya.

Menurut Mardani, jika patung sudah dimesumkan bukan wewenang penggagas lagi untuk membongkar patung tersebut.

“Menurut saya, ketika patung itu sdh di meseum. bukan kewenangan penggagas untuk membongkarnya, karena itu domain institusi. Bukan pribadi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Panglima Kostrad Letjen Dudung Abdurrachman menjelaskan, patung dimaksud adalah patung Jenderal TNI AH Nasution (Menko KSAB), Mayjen TNI Soeharto (Panglima Kostrad), dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD).

“Patung tersebut dibuat pada masa Panglima Kostrad Letjen TNI AY Nasution (2011-2012),” ujar Letjen Dudung dalam keterangannya, Senin (27/9/2021).

Namun, patung tersebut diambil oleh penggagasnya, yakni Letjen TNI (Purn) AY Nasution yang sudah meminta izin kepada dirinya.

“Saya hargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya,” Kata Letjen Dudung.

“Jadi, saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan,” jelasnya.

Lantas Letjen Dudung pun tak terima atas tudingan yang dilontarkan mantan Pangli TNI Gatot Nurmantyo.

“Itu tudingan yang keji terhadap kami,” tegasnya.

Semestinya, sebagai senior, Gatot Nurmantyo lebih dulu melakukan klarifikasi secara langsung atau tabayyun.

“Dalam Islam disebut tabayun agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang membuat fitnah, dan menimbulkan kegaduhan terhadap umat dan bangsa,” tuturnya.

(muf/pojoksatu)