Ini Cerita Sejarah Percakapan 3 Tokoh TNI Dalam Diorama di Kostrad, Polemik Letjen Dudung dengan Gatot Nurmantyo

Diorama di Markas Kostrad Jakarta Pusat (dok Twitter @cakra_kostrad)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Polemik Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurrachman dengan eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menguak cerita sejarah percapakan di balik diorama patung itu.


Dalam foto yang beredar di media sosial, terlihat ruangan diorama ini dikunjungi anak Akademi Militer (Akmil) dan juga warga biasa dalam hal ini mahasiswa.

Dalam diorama itu berdiri Pangkostrad Mayjen Soeharto, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sebagai Komandan RPKAD, dan duduk di bangku Jenderal AH Nasution (Menteri Pertahanan dan Keamanan dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata).

Belakangan patung diorama penumpasan PKI di Markas Kostrad itu sudah dibongkar eks Pangkostrad Letjen (Purn) Azmyn Yusri Nasution (AY Nasution).


Soeharto, AH Nasution, dan Sarwo Edhie Wibowo diceritakan pernah bercakap-cakap sebagaimana digambarkan dalam diorama itu.

Begini percakapan tiga jenderal itu pada tahun 1965.

Dikutip dari buku ‘Suasana 1 Oktober 1965, Setelah Pecah Pemberontakan G30S’.

Soeharto terlihat resah mondar-mandir dan memegang kepala. Dia melihat jam tangan di lengan kiri sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.

Tak lama berselang, Sarwo Edhie, yang berseragam loreng dan berbaret merah, masuk ke ruangan Soeharto. Berikut dialog mereka bertiga dalam ruangan Soeharto.

– Sarwo Edhie: Bagaimana, Pak Harto? Apa jadi dilaksanakan rencana menguasai Halim, agar jangan kesiangan dan untuk menghindari pertempuran?

– Soeharto: (Mondar-mandir tidak menjawab)

– AH Nasution: Sarwo Edhie, jij mau bikin tweede Mapanget ya (kamu mau bikin peristiwa perebutan Mapanget kedua)?

– Soeharto: Ya. Kerjakan sekarang juga (sambil mengacungkan telunjuk dengan wajah menghadap ke Sarwo Edhie)

Dikutip dari buku ‘Suasana 1 Oktober 1965, Setelah Pecah Pemberontakan G30S’, yang dimaksud tweede Mapanget adalah kisah sukses Sarwo Edhie dan pasukannya membebaskan lapangan terbang Mapanget di Manado dari Permesta pada 1958.

Cerita selanjutnya, Halim Perdanakusuma dikuasai oleh pasukan Sarwo Edhie dari PKI.

“Tidak ada perlawanan dan Omar Dhani (Laksamana Madya Omar Dhani Panglima AU) sudah lari duluan,” ujar Sarwo Edhie dalam buku terbitan TEMPO Publishing itu.

Adegan diorama ini persis diperagakan di film ‘Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI’, atau biasa disebut sebagai ‘film G30S/PKI’.

Film berdurasi hampir 5 jam ini disutradarai Arifin C Noer.

Jelas, film ini lebih dulu ketimbang diorama di Kostrad. Film ini dirilis pada 1984 dan diorama itu dibikin saat AY Nasution menjadi Panglima Kostrad pada 2011-2012.

Di film G30S/PKI, adegan Soeharto, AH Nasution, dan Sarwo Edhie ada pada bagian seperempat terakhir film.

Ruangan yang menjadi lokasi peristiwa ini adalah ruangan Panglima Kostrad (Pangkostrad), dijabat Soeharto.

Saat itu, pasukan PKI sudah menguasai kawasan Bandara Halim Perdanakusuma. Maka militer di bawah Soeharto harus menguasai Bandara Halim kembali.

Di masa selanjutnya, Sarwo Edhie Wibowo berpangkat terakhir letnan jenderal (letjen), Soeharto menjadi Jenderal Besar, dan AH Nasution juga dianugerahi Jenderal Besar.

Sebagaimana diketahui, pembongkaran patung tiga tokoh penumpas PKI itu sempat memantik prasangka dari eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Jenderal Gatot menyangka pembongkaran diorama itu adalah tanda-tanda kebangkitan PKI. Padahal inisiator dan pembongkar patung-patung itu adalah orang yang sama, yakni AY Nasution.

Pembongkaran dilakukan atas dasar pertimbangan agama sebagaimana dikutip dari detikcom. (ral/int/pojoksatu)