Vaksinasi Capai 75 Juta Orang, IDI Dukung Pembelajaran Tatap Muka di Pesantren

Istighotsah Nahdaltul Ulama digelar virtual
Istighotsah Nahdaltul Ulama dan Penguatan Informasi Covid-19 di Indonesia digelar virtual.

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Satuan Tugas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban mengatakan hingga 15 September 2021 kemarin, tercatat sudah hampir 75 juta orang Indonesia menerima vaksinasi dosis pertama.


Dengan jumlah orang yang sudah divaksin tersebut, pembukaan pesantren belajar tatap muka sudah bisa digelar.

“Kondisi membaik, tetapi harus tetap waspada. Silahkan buka pesantren. Selama memenuhi prokes,” kata Zubairi dalam Istighotsah Nahdaltul Ulama dan Penguatan Informasi Covid-19 di Indonesia yang digelar virtual, Sabtu (18/9).

Menurut Zubairi, orang dengan banyak komorbid atau penyakit penyerta justru semakin memerlukan vaksin.


Sebab, vaksinasi hanya perlu ditunda selama kondisi tubuh belum memungkinkan.

“Silahkan konsultasi ke fasilitas kesehatan. Siapa yang belum vaksinasi, secepatnya daftar. Karena semakin mudah. Pada prinsipnya, dalam kondisi pandemi, yang terbaik adalah yang di dekat kita,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Dakwah MUI KH Cholil Nafis mengatakan, MUI telah meneliti seluruh 9 vaksin yang diizinkan beredar di Indonesia.

Di sisi lain, ada vaksin yang dipastikan halal dan suci sejak proses awal hingga akhir. Dan juga ada vaksin yang bersentuhan dengan zat haram selama prosesnya. Namun MUI berpendapat vaksin-vaksin itu tetap boleh digunakan.

“Bukan diubah dari haram menjadi halal, melainkan dibolehkan,” kata dia.

Senada dengan itu, Ketua Satuan Tugas NU Peduli Covid-19, Makki Zamzami, membenarkan bahwa saat ini pihaknya tengah meluruskan kabar bohong alias hoax soal hoax Covid-19.

Bahkan kabar hoax Covid-19 sudah tersebar di kalangan warga NU.

Meski demikian, kini semakin banyak warga NU sadar kesehatan dan bahaya Covid-19 sehingga kabar hoax Covid-19 tersebut tak serta merta mudah diterima warga NU.

“Satgas NU Peduli Covid-19 menjadikan pemberantasan hoax sebagai salah satu program prioritas. Apalagi dulu di awal-awal informasinya masih berubah terus,” ujarnya. (firdausi/pojoksatu/FJPP)