Hoaks Aplikasi PeduliLindungi Buatan Singapura, Sudah Punya Sertifikat Hak Cipta

Prof Henri Subiakto, Staf Ahli Menkominfo. (Twitter/@henrysubiakto)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) membantah informasi yang menyebutkan aplikasi PeduliLindungi buatan Singapura.


Informasi hoaks yang menyebutkan PeduliLindungi buatan Singapura menyasar ke berbagai platform media sosial sejak beberapa hari terakhir.

Bahkan, mantan Duta Besar (Dubes) Polandia Peter F Ghonta turut memposting di Facebook bahwa PeduliLindungi buatan Singapura.

Ia menyebutkan data masyarakat Indonesia yang ada dalam aplikasi tersebut telah direkam oleh Singapura, sehingga kedaulatan data Indonesia terancam.


”Ternyata aplikasi Peduli Lindungi itu aplikasi bikinan Singapore. Gila, seluruh data kita direkam Singapura dan kedaulatan data Indonesia sudah di tangan mereka, meski ini aplikasi Telkom Mereka tahu alamat kita, tanggal lahir kita, email kita, makan apa, kita kemana saja, semua mereka tahu,” tulisnya.

Postingan Peter F Ghonta  Sudah Dihapus

Peter F Ghonta sudah menghapus postingan ini. Bahkan, dia telah menghubungi Staf Ahli Menkominfo, Prof Henri Subiakto.

“Terima kasih pak @PeterGontha yang nelpon saya dan jelaskan duduk perkara kenapa bikin status terkait Peduli Lindungi hingga akhirnya dihapus sendiri,” ucap Henri Subiakto, dikutip dari akun Twitter pribadinya, @henrysubiakto, Kamis (116/9).

Dalam perbincangannya, Peter Gontha, mengaku tidak bermaksud buruk, apalagi menyerang pemerintah. Peter hanya ingin diskusi.

“Tanpa maksud buruk apalagi nyerang pemerintah. Beliau hanya bertanya dan ingin ada diskusi, sekaligus minta segera disudahi, tidak diperpanjang,” tandas Henri.

Henri menegaskan aplikasi PeduliLindungi adalah buatan Indonesia, bukan buatan Singapura.

“PeduliLindungi 100% dibuat oleh Telkom. Teamnya dipimpin Faizal R. Djoemadi. Idenya memang melihat dari aplikasi TraceTogether Singapore. Tapi kemudian dikembangkan lebih canggih dan lengkap dan sudah minta izin ke Dubes Singapore. Kemudian jadi applikasi nasional yang diakui hak ciptanya,” tegas Henri.

Henri membagikan sertifikat hak cipta PeduliLindungi sebagai bukti bahwa aplikasi ini bukan buatan Singapura.

“Saya mengatakan peduli Lindungi itu buatan anak bangsa, karena secara legal sudah diakui sah oleh lembaga yang berwenang,” ucapnya.

Selain itu, hingga kini tidak ada keberatan dari luar negeri terkait aplikasi PeduliLindungi.

“Tidak ada keberatan atau gugatan dari pemilik hak cipta lain dari luar negeri. Jadi hindari berdasar persepsi, lebih baik dari aspek hukum sesuai sertifikat ini,” tegasnya.

Aplikasi PeduliLindungi dirilis pada Maret 2020. Pembuatan aplikasi telah melalui proses pengembangan yang melibatkan banyak pihak. Termasuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kemkominfo, serta Kementerian BUMN.

“Sudah ada sertifikat hak cipta, sudah ada testimoni yang ikut membuat. Tidak ada negara lain yang gugat. Ini semua fakta. Mosok fakta dikalahkan sama eyelan? Ayo terus beri masukan untuk perbaikan. Tapi jangan remehkan bangsa sendiri,” tandas Henri Subiakto. (one/pojoksatu)