TKW Indonesia di Irak Dijual, Takut Mati Konyol di Erbil

TKW Indonesia di Irak, Sularsih (kiri) dan Ratna (kanan).

POJOKSATU.id, JAKARTA – Tenaga kerja wanita atau TKW Indonesia di Irak ramai-ramai meminta dipulangkan ke Tanah Air. Mereka merasa ketakutan di negara yang masih berkonflik tersebut.


Para TKW Indonesia di Irak ini diduga merupakan korban sindikat perdagangan orang dengan modus penempatan tenaga kerja di Erbil, Irak.

Salah satu korbannya adalah May Purbaningrum, TKW asal Serang Banten. Saat ini, May Purbaningrum bekerja di Erbil Irak.

BACA: Ketakutan, Puluhan TKW Indonesia di Irak Nangis Minta Pulang


May meminta bantuan kepada Badan Advokasi Indonesia (BAI) agar membantu proses kepulangannya ke Tanah Air.

“Saya meminta bantuan kepada pihak BAI untuk memulangkan ke negara asal saya, yaitu Indonesia karena saya merasa takut,” ucap May dalam video yang diterima Pojoksatu.id, Rabu (15/9).

“Di sini sudah mulai ada peperangan dan saya sedikit agak sakit karena jatuh dari tangga,” sambungnya.

May mengaku bekerja di Irak karena dibujuk oleh seseorang bernama Dewi. Ia ditawari bekerja sebagai asisten rumah tangga.

“Saya menerima tawaran si Dewi karena saya butuh pekerjaan,” ucapnya.

May Purbaningrum, TKW Indonesia di Irak

Selain itu, May juga merasa bahwa bekerja sebagai asisten rumah itu tidak sulit. Cukup bersih-bersih rumah.

Setibanya di Erbil Irak, May justru dijual oleh agency penyalur tenaga kerja.

“Di situ saya berpikir kok saya dijual lagi? Padahal sudah ready majikan. Kenapa saya harus dijual lagi? Dari situ saya merasa kecewa banget,” ucapnya.

Ratna Takut Mati Konyol di Erbil

Ratna, TKW Indonesia di Irak juga ikut menyerahkan kuasa kepada tim BAI Jakarta Timur untuk memproses kepulangannya ke Indonesia.

Saat ini, Ratna bekerja di Erbil sebagai asisten rumah tangga.

Ratna mengaku sedang tidak sehat akibat terjatuh dari kamar mandi.

“Sudah lima bulan habis jatuh dari kamar mandi, tidak dibawa berobat ke dokter atau ke praktek oleh majikan,” ucap dalam video yang diterima Pojoksatu.id.

Ia mengaku pernah diadukan oleh majikan ke kantor agency penyalur tenaga kerja lantaran meminta pulang ke Indonesia.

“Kata orang kantor, kalau ada uang 6.000 dollar baru bisa pulang (ke Indonesia). Jadi saya harus bertahan bekerja di sini,” ucapnya sambil menangis.

Ia merasa ketakutan tinggal di Erbil lantaran tiga hari yang lalu dia mendengar suara tembakan.

“Saya tidak mau mati konyol di sini, saya minta dipulangkan,” bebernya.

“Saya punya anak, saya seorang janda. Suami sudah meninggal,” tambahnya, berderai air mata.

Ratna mengaku tidak ingin meninggal dunia di negera orang. Ia ingin pulang ke Tanah Air.

“Mati di sini gak berarti, jasad gak akan dipulangin. Aku mohon kepada tim BAI tolong proses saya pulang,” pintanya.

Bagian punggung Ratna masih sering sakit pasca jatuh di kamar mandi. Tapi dia tetap harus bekerja.

“Gak boleh ngeluh di depan majikan karena mereka gak tanggapi sama sekali. Permasalahan aku sakit atau tidak, mereka cuek semua,” pungkasnya.

Sularsih Tertipu Sindikat Penyalur Tenaga Kerja

Sularsih, TKWI Indonesia di Irak menyampaikan keluhan serupa. Ia tertipu oleh sindikat dengan modus penyalur tenaga kerja.

Sularsih meminta kepada BAI agar membantunya pulang ke Indonesia.

“Aku mohon kepada BAI untuk memediasi, memulangkan saya,” ucap Sularsih.

Saat ini Sularsih sedang sakit-sakitan sehingga dia tidak bisa bekerja maksimal.

“Saya sakit, saya kena asam lambung, saya gak kuat kerja. Kalau begini terus, takunya kenapa-kenapa. Takutnya kalau saya banyak pikiran, saya lebih drop lagi,” ujarnya.

Sularsih baru mengetahui jika Irak merupakan negara yang terlarang bagi TKW Indonesia.

“Saya gak tahu kalau di negara Irak itu kitanya ilegal. Saya terbujuk sama sponsor yang katanya bisa kerja aman,” jelasnya.

“Saya baru tahu kemarin kalau di Irak itu negara ilegal buat kita kerja,” imbuhnya.

Sularsih berharap kepada pemerintah Indonesia dan BAI agar bisa membantu kepulangannya ke Tanar Air.

“Tolong bantu saya. Saya di sini takut, setiap hari ketakutan. Setiap hari kerja rasanya gak enak,” pungkas TKW Indonesia di Irak ini. (one/pojoksatu)