Suka Duka Edukator Pencegahan Hoaks Covid-19, Kerap Dihina dan Diancam

Edukator hoaks Covid-19, dr RA Adaninggar SpPD. Instagram/@drningz.

POJOKSATU.id, JAKARTA – Salah satu cara efektif untuk mencegah penyebaran isu hoaks Covid-19 yakni intens memberikan edukasi di media sosial.


Para edukator pencegahan hoaks Covid-19 memanfaatkan media sosial untuk melakukan edukasi kepada masyarakat, khususnya warganet.

Namun melakukan edukasi pencegahan hoaks Covid-19 di media sosial tidaklah mudah.

Para edukator harus konsisten mengulas isu hoaks Covid-19 setiap hari.


Selain itu, mereka juga harus siap-siap dibully, dihina, difitnah, dan diancam warganet.

Seperti itulah yang dialami edukator pencegahan hoaks Covid-19, dr RA Adaninggar SpPD.

Dokter ahli penyakit dalam ini kerap dihina, difitnah, diancam, dan dan dikata-katain dengan ujaran kebencian.

Ia juga dianggap sebagai korban penggiringan opini. Bahkan dia dituding selalu mendapatkan keuntungan dari bisnis pandemi.

Tak hanya itu, beberapa warganet juga tak percaya jika RA Adaninggar adalah seorang dokter.

Meski kerap dibully, perempuan yang akrab disapa dokter Ningz ini tak peduli.

Ia tetap konsisten melakukan edukasi hoaks Covid-19 di Instagram pribadinya, @drningz.

“Jadi edukator di media sosial itu gak semenyenangkan yang anda pikir apalagi kalo konsisten ngomongin hoax Covid,” ucap dr Ningz, Selasa (14/9).

Dokter cantik ini bertahan untuk terus melakukan edukasi karena sejak awal dia sudah berkomitmen untuk membantu masyarakat secara sukarela.

Ia ingin membagikan ilmunya agar masyarakat lebih pintar dan bisa menghadapi pandemi Covid-19 secara bersama-sama.

“Saya benci kebohongan, saya benci sesuatu hal yang tidak benar, mungkin itu yang membuat saya gak pernah berhenti edukasi terutama untuk melawan misinformasi dan hoax yang sangat merugikan,” tegas dr Ningz.

Hanya satu keinginan dr Ningz, yakni pandemi Covid-19 segera berakhir.

Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan edukasi hoaks Covid-19 dan bersama-sama melawan pandemi.

“Yuk siapa yang mau mengikuti jejak saya? Harus siap mental yaa. Harus siap dihina, difitnah, diancam, jadi korban ujaran kebencian, jadi korban penggiringan opini, tapi di satu sisi harus tetap sabar dan tidak emosional dalam menghadapi meskipun saya akui secara manusiawi saya juga sering emosi,” katanya.

Dr Ningz berharap mendapatkan hikmah dan bisa lebih sabar dalam memberikan edukasi hoaks Covid-19 kepada masyarakat.

“Saya akan terus belajar dan belajar. Menjadi orang yang sabar adalah keahlian saya yang baru nantinya,” ucapnya.

4.707 Konten Hoaks Covid Beredar di Medsos

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), total konten hoaks Covid-19 yang menyebar di media sosial sejak 23 Januari 2020 hingga 11 September mencapai 4.707 konten dengan 1.897 isu.

Konten hoaks Covid-19 ini menyebar di sejumlah platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan TikTok.

Konten hoaks Covid-19 terbanyak beredar di Facebook, totalnya 4.028 konten. Sebanyak 3.930 konten telah dihapus (take down) dan 89 konten sedang ditindaklanjuti.

Twitter berada di urutan kedua penyebar konten hoaks Covid-19 terbanyak dengan jumlah konten 567. Sebanyak 557 konten sudah take down dan 10 konten sedang ditindaklanjuti.

YouTube di urutan ketiga dengan jumlah konten 55. Sebanyak 54 konten sudah dihapus dan satu konten sedang ditindaklanjuti.

Berikutnya, Instagram dengan 38 konten dan 37 sudah dihapus. Sisanya masih ditindaklanjuti.

Terakhir, TikTok dengan 19 konten dan 7 konten sudah dihapus. Sisanya masih sedang ditindaklanjuti.

“Ini belum termasuk WA grup ya, padahal ini yang paling gak bisa dikendalikan,” kata dr RA Adaninggar.

Dokter ahli penyakit dalam ini menduga banyaknya konten hoaks Covid-19 menyebar di Facebook karena penggunanya terbanyak.

Selain itu, edukator hoaks Covid-19 juga diduga tidak banyak yang menggunakan Facebook.

“Kenapa bisa banyak banget ya di Facebook? Para edukator gak ada yang mau bantu edukasi di sana kah?,” tanya perempuan yang akrab disapa dr Ningz ini.

“Generasi orang tua saya juga generasi yang masih banyak berkutat di Facebook, sepertinya inilah kenapa generasi ini cukup terdampak dan sangat mudah mempercayai hoaks,” sambungnya.

Berkaca dari data Kominfo, dokter cantik ini menilai media sosial merupakan sarana paling utama penyebaran konten hoaks Covid-19.

“Apapun itu menunjukkan bahwa media sosial memang menjadi media utama penyebaran hoaks, dan hoaks ini termasuk salah satu faktor yang mendukung masih terjadinya penyebaran Covid, jadi memang harus dilawan sama seperti melawan virusnya,” tegasnya.

Dr Adaninggar mengajak masyarakat untuk meningkatkan literasi agar penyebaran isu hoaks bisa diminimalisir.

“Yuk tingkatkan literasi, jangan males baca, jangan males tanya, dan kritislah dalam mencerna informasi, pastikan sumber informasi valid dan benar-benar orang yang berkompetensi sesuai bidangnya,” jelas dr Adaninggar.

“Pastikan informasi benar dan bermanfaaf sebelum anda bagikan ke orang lain. Saring sebelum sharing. Jangan sampai anda menyebarkan informasi salah yang justru menyebabkan orang meremehkan bahkan sampai menimbulkan korban sakit dan meninggal,” pungkasnya. (one/pojoksatu)