KPAI Desak Polisi Tangkap Pejabat Yang Gencot 4 Siswi SMA Jayapura Papua

Komisioner KPAI, Jasra Putra

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menanggapi kasus dugaan pemerkosaan terhadap 4 siswi SMA Jayapura Papua.

Keempat siswi SMA Jayapura Papua itu diduga digencot oleh pejabat daerah dan beberapa politisi saat dibawa jalan-jalan ke Jakarta pada April 2021.

BACA: LBH Dampingi 4 Siswi SMA Papua Korban Gencotan Pimpinan OPD Dan Politisi

Saat ini, Polda Papua sedang menyelidiki kasus dugaan pemerkosaan terhadap 4 siswi SMA Jayapura Papua tersebut.


Kabarnya, empat siswi Jayapura Papua itu diancam dan dipaksa berdamai dengan para pelaku.

Komisioner KPAI, Jasra Putra menyesalkan terjadinya perdamaian antara pelaku dan para korban.

Jasra Putra meminta kepada polisi untuk melanjutkan kasus dugaan pemerkosaan terhadap 4 siswi SMA Jayapura Papua tersebut.

“Kami meminta aparat hukum untuk melanjutkan proses hukum terhadap pelaku predator anak,” kata Jasra Putra dalam keterangannya, dikutip Pojoksatu,id dari RM.id, Selasa (14/9).

“Jika aparat kepolisian menemukan alat bukti yang cukup, segera lakukan penangkapan kepada terduga pelaku, serta memberikan hukuman maksimal,” tambahnya.

Harus Diusut Sampai ke Akarnya

Jasra Putra mendorong kepolisian mengembangkan kasus ini hingga ke akarnya. Termasuk dugaan tindak pidana perdagangan orang.

Apalagi, KPAI mendapatkan informasi bahwa 4 siswi SMA Jayapura ini sampai dibawa ke Jakarta.

“Tentu harus didalami motif keberangkatan tersebut. Termasuk, janji-janji yang diberikan kepada korban. Sehingga anak terbujuk mau berangkat ke Jakarta, tanpa sepengetahuan orangtuanya,” ungkapnya.

Jasra berharap kejadian serupa tidak terulang lagi, mengingat Bumi Cendrawasih akan segera melangsungkan PON XX.

Jasra mengatakan, sejumlah event di suatu daerah yang mendatangkan keramaian, kadangkala dimanfaatkan oknum untuk melakukan bisnis prostitusi ilegal.

“Tentu, kita sangat menyayangkan mudahnya aparat menerima perdamaian, terhadap kasus tindak pidana pelecehan terhadap anak. Sudah jatuh ditimpa tangga,” ucapnya.

“Ini gambaran nasib korban, jika peristiwa ini tidak diungkap oleh kepolisian dengan terang benderang,” tambahnya.

Jasra pun mendorong Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) bisa memberikan perlindungan kepada korban, agar kasus ini tidak terjadi ancaman dari terduga pelaku.

“Informasi sementara yang kita dapatkan, ada pencabutan laporan dari korban karena dapat ancaman terduga pelaku,” beber Jasra.

Kabar soal pemerkosaan 4 siswi SMA Jayapura Papua itu viral di media sosial (medsos). Mereka dikabarkan diculik hingga digencot oknum politisi dan pejabat daerah Papua.

Kasus ini bermula saat mereka diajak seseorang berjalan-jalan ke Jakarta. Kepergian mereka itu tidak diketahui keluarga masing-masing siswi.

Hingga akhirnya, mereka digencot dan dilarang memberitahukan aksi bejat terduga pelaku kepada siapa pun, termasuk kepada keluarga.

Para pengacara keluarga siswi SMA Jayapura Papua yang hendak melaporkan kejadian ini mendapat ancaman dari pelaku dan aparat. Mereka disebut dipaksa mencabut laporan polisi dari Polda Papua. (umm/rm.id)