Isu Hoaks Covid-19 Terbanyak di Facebook, Dispusipda Intens Edukasi Masyarakat

Dr RA Adaninggar SpPD. Foto Instagram/@drningz

POJOKSATU.id, JAKARTA – Isu hoaks Covid-19 menyebar di sejumlah platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan TikTok.


Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), total isu hoax Covid-19 yang menyebar di media sosial sejak 23 Januari 2020 hingga 11 September 2021 mencapai 4.707 konten.

Isu hoaks Covid-19 terbanyak beredar di Facebook, totalnya 4.028 konten. Sebanyak 3.930 konten telah dihapus (take down) dan 89 konten sedang ditindaklanjuti.

Twitter berada di urutan kedua penyebar isu hoaks Covid-19 terbanyak dengan jumlah konten 567. Sebanyak 557 konten sudah take down dan 10 konten sedang ditindaklanjuti.


YouTube di urutan ketiga dengan jumlah konten 55. Sebanyak 54 konten sudah dihapus dan satu konten sedang ditindaklanjuti.

Berikutnya, Instagram dengan 38 konten dan 37 sudah dihapus. Sisanya masih ditindaklanjuti.

Terakhir, TikTok dengan 19 konten dan 7 konten sudah dihapus. Sisanya masih sedang ditindaklanjuti.

Edukator hoaks Covid-19, dr RA Adaninggar SpPD menanggapi banyaknya isu hoax Covid-19 yang menyebar di media sosial.

“Ini belum termasuk WA grup ya, padahal ini yang paling gak bisa dikendalikan,” kata dr RA Adaninggar, dikutip dari akun Instagram pribadinya, @drningz.

Dokter ahli penyakit dalam ini menduga banyaknya isu hoaks Covid-19 menyebar di Facebook karena penggunanya terbanyak.

Selain itu, edukator hoaks Covid-19 juga diduga tidak banyak yang menggunakan Facebook.

“Kenapa bisa banyak banget ya di Facebook? Para edukator gak ada yang mau bantu edukasi di sana kah?,” tanya perempuan yang akrab disapa dr Ningz ini.

“Generasi orang tua saya juga generasi yang masih banyak berkutat di Facebook, sepertinya inilah kenapa generasi ini cukup terdampak dan sangat mudah mempercayai hoaks,” sambungnya.

Berkaca dari data Kominfo, dokter cantik ini menilai media sosial merupakan sarana paling utama penyebaran konten hoaks Covid-19.

“Apapun itu menunjukkan bahwa media sosial memang menjadi media utama penyebaran hoaks, dan hoaks ini termasuk salah satu faktor yang mendukung masih terjadinya penyebaran Covid, jadi memang harus dilawan sama seperti melawan virusnya,” tegasnya.

Dr Adaninggar mengajak masyarakat untuk meningkatkan literasi agar penyebaran isu hoaks bisa diminimalisir.

“Yuk tingkatkan literasi, jangan males baca, jangan males tanya, dan kritislah dalam mencerna informasi, pastikan sumber informasi valid dan benar-benar orang yang berkompetensi sesuai bidangnya,” jelas dr Adaninggar.

“Pastikan informasi benar dan bermanfaaf sebelum anda bagikan ke orang lain. Saring sebelum sharing. Jangan sampai anda menyebarkan informasi salah yang justru menyebabkan orang meremehkan bahkan sampai menimbulkan korban sakit dan meninggal,” pungkasnya.

Dispusipda Jabar Intens Edukasi Pencegahan Hoaks Covid-19

Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat intens melakukan sosialisasi dan edukasi pencegahan hoaks Covid-19.

Dispusipda bekerja sama dengan sejumlah media mainstream untuk melakukan edukasi kepada masyarakat.

Kabid BPBGM Dispusipda, Ateng Kusnadar Adisaputra menjelaskan, pihaknya memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman terkait hoaks kepada masyarakat.

“Kami terus memberikan literasi apa itu hoax dan dampaknya agar masyarakat tidak terpengaruh berita hoax,” jelas Ateng.

Ateng mengakatakan isu hoaks Covid-19 menjadi perhatian khusus Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil, kata Ateng, meminta agar pemahaman dan edukasi pencegahan hoaks gencar dilakukan.

“Dan ini ditempuh di divisi kami saat ini, agar masyarakat tetap sehat, tetap mencegah penyebaran Covid-19 dengan tidak termakan hoaks yang beredar,” tandas Ateng. (one/arf/pojoksatu)