Kebangkitan Pariwisata, Pengelola dan Pengunjung Wajib Prokes

Kepadatan lalulintas di jalur Puncak Bogor

POJOKSATU.id, CIANJUR – Sektor pariwisata dan pendukungnya mulai bangkit setelah level PPKM terus menurun sejak akhir Agustus lalu, disusul pelonggaran yang dilakukan pemerintah.


Itu berdampak pada menggeliatnya sektor pariwisata. Salah satunya di kawasan Puncak Bogor dan Cianjur, Jawa Barat.

Ketua PHRI Cianjur, Nano Indrapraja mengungkap, saat ini okupansi atau tingkat hunian hotel di kawasan Puncak Cianjur mengalami peningkatan dibanding sebelumnya.

“Beberapa hotel yang tergabung di PHRI Cianjur hampir terisi hingga 70 persen,” ungkap dia, Senin (7/9/2021).


Padahal, selama PPKM lalu, sejumlah hotel di kawasan Puncak Cianjur mengalami penurunan hunian yang sangat drastis.

Bahkan, Marketing Communication (Marcomm) Palace Hotel Cipanas, Mira mencatatat, okupansi saat itu tidak sampai 30 persen.

“Sejak weekend kemarin meningkat hingga sekitar 70 persen. Dari total 192 kamar, terisi sekitar 130 kamar,” terangnya.

Pihaknya pun tetap berpegang teguh pada aturan pemerintah dan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Mulai pengecekan suhu tubuh, menyediakan hand sanitizer dan tempat cuci tangan.

“Serta diwajibkan kepada pengunjung hotel menunjukkan kartu vaksinasi,” ungkapnya.

Peningkatan okupansi juga dialami Zuri Resort Cipanas yang pada akhir pekan kemarin seluruh kamar nyaris terisi.

Penerapan prokes pun dibalut dengan memberikan promo diskon 20 persen kepada tamu hotel.

“Kalau pesan makan dan minum ke kamar, langsung bisa dapat promonya,” kata General Manager Zuri Resort Cipanas, Vallien Ishak.

Sementara itu, Bupati Cianjur, Herman Suherman menjelaskan, ada sejumlah ketentuan obyek wisata diperbolehkan beroperasi.

Di antaranya, penerapan prokes secara displin dan ketat oleh pengelola.

Selain itu, pengelola juga harus menyediakan fasilitas pendukung prokes.

Seperti pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk, tempat cuci tangan, sampai menyediakan hand sanitizer dan mewajibkan pengenaan masker.

“Selain itu kapasitas juga hanya 25 persen saja,” tegasnya.

Tidak hanya itu, tidak semua pengunjung boleh masuk ke sebuah obyek wisata.

“Pengunjung yang boleh masuk juga harus sudah menerima vaksin minimal dosis pertama dan menunjukkan hasil test antigen,” kata Herman.

(Yayu Lutfiah/PojokSatu.id/FJPP)