Novel Bamukmin Balas Kapitra Ampera, Semua Dibahas, Mulai Orde Baru, Pilpres 2019 sampai Daya Gempur

Novel Bamukin dan Kapitra Ampera

Keduanya, lanjut Novel, jatuh karena adanya kekuatan politik jalanan.


“Ingat, turunnya Soeharto cuma ratusan ribu mahasiswa, namun Soeharto sebagai negarawan sejati bisa mengundurkan diri dan itu terhormat,” kata Novel.

Namun hal itu, kata Novel, berbeda dengan Jokowi.

Meski Jokowi sudah didatangi masa aksi bela Islam dengan jutaan orang akan tetapi tidak turun dari jabatannya.


“Malah melindungi penista agama serta mengkriminalisasi ulama, padahal zaman Soeharto dan Soekarno tidak ada yang tangkapi itu para pendemo,” sambungnya.

Ia menegaskan, mantan imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu sama sekali tak memiliki ambisi jadi presiden.

Atas dasar itu pula HRS juga tak berkeinginan untuk mendirikan partai politik.

“Namun daya gempur beliau secara konstitusi dahsyat.” kata dia.

“Seharusnya rezim ini malu dan tahu diri bahwa kekuasaannya sekarang adalah curang berdasarkan putusan MA dan bahkan TSM dengan korban nyawa petugas KPPS serta syahidnya umat Islam depan Bawaslu dan sekitarnya ketika itu,” tandasnya. (rmol/pojoksatu)