Pengerusakan Masjid Ahmadiyah di Kalbar, Muannas Alaidid: Negara Harus Jamin Kerukunan Umat dari Kelompok Intoleran

Muannas Alaidid

POJOKSATU.id, JAKARTA- Founder Of Cyber Indonesia, Muannas Alaidid menilai pengerusakan tempat ibadah Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat itu telah malanggar hak berkeyakinan sebagai warga negara.


“Ini mesti dibedakan antara kedudukan kita atas hak berkeyakinan dan kedudukan kita sebagai warga negara,” kata Muannas saat dihubungi Pojoksatu.id, Sabtu (4/9/2021).

Apalagi, kata Muannas, keberadaan JAI di Sintang juga sudah ada aturannya. Di mana pemerintah Kabupaten Sintang sudah menerbitkan Surat Keputusan untuk penghentian aktivitas di Masjid milik JAI Sintang sejak 27 Agustus 2021 lalu.

“Tapi dalam Pemkab Sintang menjamin kebebasan kepada JAI untuk beribadah sepanjang mengakui Islam sesuai ketentuan Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2008,” ungkapnya.


Karena itu, kata Muannas, negara wajib menjamin keamanan warganya sebagai bentuk wujud kerukunan dalam beragama.

“Maka bentuk jaminan terhadap warga negara adalah menempatkan semua warga negara sama dihadapan hukum, tangkap dan proses hukum mereka semua sesuai ketentuan hukum berlaku,” tandas Muannas.

“Penegakkan hukum terhadap para pelaku juga merupakan bagian dari komitmen negara menjamin kerukunan umat beragama dari ancaman kelompok intoleran,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah massa mendatangi jemaah Ahmadiyah di Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar), Jumat siang.

Dalam peristiwa tersebut, bangunan masjid mengalami kerusakan karena dilempar dan bangunan belakang masjid dibakar massa.

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Donny Charles Go sebelumnya membenarkan peristiwa perusakan masjid Ahmadiyah oleh sekelompok orang itu. Menurut Donny, peristiwa itu terjadi usai pelaksanaan salat Jumat.

Donny mengatakan perusakan dan pembakaran itu diduga dilakukan oleh massa yang berjumlah hingga 200 orang. Tak ada korban jiwa dalam insiden itu.

“Kami fokus mengamankan jemaah Ahmadiyah yang berjumlah 72 orang, atau 20 KK dan bangunan masjid,” kata Donny saat dikonfirmasi, Jumat (3/9).

(fir/pojoksatu)