Ini 6 Tantangan Megatrend Indonesia Menurut Airlangga Hartarto

Airlangga Hartarto menyampaikan pidato kebangsaan dalam acara HUT CSIS

Visi Satu Abad Kemerdekaan RI

Airlangga menegaskan Indonesia harus optimis mampu mewujudkan kesejahteraan pada 1 abad kemerdekaan.


“Tahun 2019 yang lalu, kita sudah masuk dalam kategori negara berpenghasilan menengah tinggi (upper-middle income) dengan GDP mencapai 4.050 USD,” ujarnya.

Namun, akibat pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, mengintrupsi kita untuk turun kembali menjadi negara berpenghasilan menengah rendah (lower-middle income) dengan GDP sebesar 3.870 USD.

“Seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi, kita harus kembali meningkatkan pendapatan masyarakat kita. Kita harus mendorong ke arah semakin memperbesar kelompok kelas menengah kita sehingga dapat mengurangi ketimpangan secara signifikan,” kata Airlangga.


“Dalam visi kami, kita ingin keluar dari jebakan kelas menangah (middle income trap) dengan pendapatan di atas 12.500 USD per kapita pada tahun 2036,” tambahnya.

Diharapkan pada tahun 2045, Indonesia menjadi negara dengan pendapatan tinggi (high income) sebesar 23.199 USD per kapita.

Apa yang harus dikerjakan dari mulai sekarang untuk 2045 nanti?

Menurut Airlangga, setidaknya ada tiga pilar yang harus menjadi perhatian.

Pertama, pembangunan manusia dan penguasaan teknologi.

Kedua, pembangunan ekonomi yang berbasis kepada global value chain, peningkatan produktivitas, pengembangan blue economy, green economy dan circular economy yang mendorong pembangunan berkelanjutan secara inklusif.

Ketiga, memperkuat ketahanan kohesi sosial dan tenun kebangsaan Indonesia.

“Yang pertama kita harus memperkuat sumber daya manusia yang terampil, berkualitas, tangguh, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta berprestasi,” ucapnya.

Kuncinya terletak pada pendidikan, oleh karenanya kebijakan pendidikan double track perlu diperdalam, Track pertama adalah mendorong munculnya lulusan SMA sederajat yang berkualitas dan pendidikan tinggi yang mampu berkompetisi di tingkat global.

“Kita harus menjadikan perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam Top 100 Dunia,” tegas Airlangga.

Track kedua adalah pengembangan vokasi baik itu SMK dan politeknik yang siap kerja yang berorientasi terhadap faktor permintaan yang dibutuhkan, termasuk peningkatan peserta didik pada sains, teknologi, aritificial
engineering, robotik, crypto, bio-science, engineering, matematika dan manajemen.

Selain itu, belajar dari pandemi yang kita alami saat ini, harus memiliki perhatian serius terhadap aspek ketahanan kesehatan.

“Kita harus membangun sistem dan fasilitas kesehatan publik di sektor hulu yang mengedapkan aspek pencegahan terutama menyangkut gizi, penyehatan lingkungan, perubahan perilaku sehat,” katanya.

Pada aspek penanganan kesehatan, membangun sistem dan fasilitas kesehatan di sektor hilir yaitu, pengobatan, yang menyangkut pengendalian penyakit, termasuk pengendalian pandemi dan endemi, Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, serta industri obat obatan termasuk kemandirian dalam memproduksi vaksin.

Dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, harus meningkatkan riset, pengembangan dan inovasi serta meningkatkan kerja sama secara produktif antara akademisi, pemerintah dan bisnis.

Keterbukaan bekerja sama dengan para pemain global dalam rangka peningkatan kualitas para akademisi dan peneliti Indonesia.

Yang kedua dalam menghadapi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, harus mengambil langkah-langkah yang tepat dengan melakukan modernisasi pada semua sektor: infrastruktur, energi, industri, pertanian, industri maritim dan kelautan, industri pariwisata dan kreatif, perdagangan luar negeri dan lain-lain.

Pembangunan berbagai sektor itudengan memperhatikan lingkungan secara bertanggung jawab melalui penurunan emisi, peningkatan keanekaregaman hayati, dan ekonomi hijau serta ekonomi biru secara berkelanjutan.

“Kita harus memiliki ketahanan pangan, energi dan air kebutuhan fundamental bangsa,” jelasnya.

Selain itu, pembangunan ekonomi harus berorientasi inklusif yang bertujuan mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan pendapatan dengan melakukan kebijakan afirmatif serta semakin tertatanya jaminan perlindungan sosial dengan rapi dan baik.

Yang ketiga, yang tak kalah pentingnya, adalah membangun ketahanan kohesi sosial dan tenun kebangsaan.

“Sebagai bangsa Indonesia, kita patut bersyukur bahwa kita disatukan dalam suatu ideologi negara yaitu Pancasila,” imbuhnya.

Menurut Airlangga, Pancasila inilah yang seharusnya dijadikan sebagai perekat tenun kebangsaan kita.

“Sebagai warga bangsa yang disatukan karena perbedaan dan kemajemukan, nilai-nilai dan wawasan kebangsaan merupakan prasyarat mutlak yang harus dijaga demi tetap tegak dan utuhnya NKRI, kemajemukan dan keragaman suku, budaya, bahasa, etnis, golongan dan agama, di satu sisi merupakan kekayaan yang dapat menjadi kekuatan positif dalam pembangunan bangsa,” katanya.

Di sisi lain, kemajemukan dan keberagaman juga mengandung potensi konflik yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi titik retak persatuan dan kesatuan bangsa.

Melihat kondisi sumber daya manusia saat ini dari segi kuantitas cukup besar, namun dari segi kualitas masih banyak yang perlu untuk ditingkatkan dan perlu mendapat perhatian.

Displin, budaya, etos kerja, jiwa nasionalisme dan kegigihan haruslah menjadi karakter bangsa.

“Hal itu merupakan prasyarat agar di tengah kita mencapai target visi 2045, Indonesia sebagai negara tetap harus maju, di tengah kemajemukannya serta tetap punya ciri dan karakter kebangsaan yang utuh,” pungkas Airlangga. (*/pojoksatu)