Ini 6 Tantangan Megatrend Indonesia Menurut Airlangga Hartarto

Airlangga Hartarto menyampaikan pidato kebangsaan dalam acara HUT CSIS

POJOKSATU.id, JAKARTA – Menko Perekonomian yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto membeberkan 6 tantangan megatrend Indonesia dalam menyongsong tahun 2045.


“Untuk menghadapi Indonesia tahun 2045 ke depan, kita harus menghadapi berbagai tantangan atau megatrend untuk mewujudkan kesejahteraan,” ucap Airlangga saat menyampaikan pidato kebangsaan dalam acara HUT CSIS ke-50 tahun, Selasa (10/8/2021).

Enam tantangan megatrend itu yakni perubahan iklim, menipisnya sumber daya, perkembangan demografi, urbanisasi, inovasi teknologi (digital) dan revolusi industri 4.0 serta ketimpangan ekonomi dan akses.

Airlangga mengatakan, megatrend ini menjadi faktor penting yang menggerakkan perubahan masyarakat, mempengaruhi banyak hal dimana pembuat kebijakan harus melakukan respon yang tepat.


“Manusia berinteraksi dengan megatrend ini dan saling mempengaruhi,” ucapnya.

Masyarakat dapat melihat megatrend sebagai kesempatan, namun tidak jarang menjadi sumber ketimpangan bagi yang tidak bisa beradaptasi.

“Tantangan perubahan iklim merupakan isu global yang harus kita hadapi,” jelas Airlangga.

Pemanasan Global pada tahun 2017 sudah mencapai 1% level di atas preindustrialisasi.

Diproyeksikan oleh para ahli dengan kecepatan polusi dan emisi gas seperti sekarang, maka bisa mencapai kenaikan hingga 2.5% pada tahun 2050 dan dampak kenaikannya akan sangat berat dan menjadi tidak terkendali lagi.

“Dari aspek demografi, kita akan mengalami masalah kependudukan termasuk penuaan (aging) berasal dari penurunan tingkat fertilitas dan peningkatan usia manusia,” ujarnya.

Secara umum masyarakat yang muda dianggap memperoleh keuntungan demografi karena pekerja muda akan lebih produktif, sementara masyarakat usia lanjut dianggap menjadi beban.

Namun jika pada usia lanjut masyarakat tetap sehat dan produktif, maka pintu kesempatan tetap terbuka bagi masyarakat usia lanjutpun bisa tetap produktif.

Dikatakan Airlangga, urbanisasi menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi.

Pada tahun 2008, pertama kalinya lebih dari 50% penduduk tinggal di perkotaan.

Diperkirakan akngka ini akan naik hingga 70% pada tahun 2050. Urbanisasi masih akan terus berlanjut.

Tantangannya adalah menyiapkan perumahan yang terjangkau, baik dan terawat untuk penduduk yang berimigrasi ke perkotaan.

“Di sisi lain, kita terus mengalami transformasi teknologi, terutama teknologi berbasis digital,” jelasnya.

Transformasi teknologi ini akan mempengaruhi pergerakan struktur sosial dan ekonomi baik secara positif maupun negatif dan berdampak luas terhadap masyarakat di masa yang akan datang.

Perubahan gelombang teknologi yang sedang berlangsung akan mempengaruhi pasar tenaga kerja di berbagai lini.

Transformasi teknologi ini menimbulkan dua sisi mata uang yang berbeda.

Di satu sisi, perkembangan teknologi berkontribusi terhadap penghilangan lapangan pekerjaan selama dua abad terakhir. Namun, di sisi lain, perkembangan teknologi juga menciptakan lapangan pekerjaan di berbagai sektor.

Transformasi di semua sektor ekonomi akan terjadi dan difasilitasi perkembangan teknologi ini, yang megakibatkan penurunan biaya dan peningkatan efisiensi serta menciptakan lapangan pekerjaan yang baru dan menjadi peluang untuk pertumbuhan ekonomi.

Perubahan teknologi jelas akan menciptakan pemenang (winner) dan yang kalah (loser).

Potensi ketimpangan kesehatan dan pendidikan yang disebabkan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang cepat, ikut berperan menambah ketimpangan antar kelompok masyarakat.

Ketimpangan merupakan fenomena yang terjadi dari waktu ke waktu dan trendnya kadang menurun dan meningkat. Namun akibat dari pandemi ini diperkirakan ketimpangan antar negara maupun dalam satu negara mengalami peningkatan.