Disomasi Moeldoko 3×24 Jam Soal Ivermectin dan Bisnis Beras, ICW: Sehingga Apa-apa Membawa ke Ranah Hukum

Moeldoko melontarkan sindiran. Foto Repro

POJOKSATU.id, JAKARTA – ICW disomasi Moeldoko 3×24 jam soal ivermectin dan kasus bisnis beras. Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, anti terhadap kritikan.


ICW meminta agar Moeldoko mencontoh sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disebut terbuka terhadap kritik.

“Karena beliau kan pejabat KSP ya, sudah sangat banyak pejabat publik yang memberikan nasehat kepada Pak Moeldoko agar ia sebagai pejabat harus lah kemudian legowo dikritik dan refleksi,” jelas Pengacara ICW Muhammad Isnur kepada wartawan, Jumat (6/8/2021).

“Sehingga kemudian menjadi ‘apa-apa membawa ke ranah hukum’,” katanya lagi.


Isnur mencontohkan sikap Jokowi yang tidak anti terhadap kritik yang seharusnya ditiru oleh Moeldoko.

Misalnya, kata dia, saat Jokowi dilabeli ‘The King of Lips Service’ oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) beberapa waktu lalu.

“Pak Jokowi itu kan sebagai contoh menurut saya. Dia kan pasti cerita dia sudah sangat banyak dikritik, dihina dan lain-lain dan dia tidak bawa ini ke ranah hukum gitu,” kata Isnur.

“Kita masih ingat Pak Jokowi waktu UI memberikan stempel ‘lips service’, malah dia kemudian mendorong kampus untuk melindungi BEM UI,” jelasnya.

“Seharusnya Pak Moeldoko sebagai kepala KSP, yang melayani Pak Jokowi, mengambil teladan dari Pak Jokowi,” katanya lagi.

Dia menyebut jika Moeldoko terus berencana memidanakan ICW gara-gara tuduhan ‘promosi’ obat Ivermectin dan bisnis ekspor beras akan berdampak tidak baik.

Dampaknya, kata Isnur, akan sampai kepada citra Jokowi sebagai kepala negara.

“Tentu sikap-sikap yang dilakukan Pak Moeldoko itu akan membawa juga citra pak presiden. Kita bisa katakan kalau Pak Moeldoko terus berkehendak mengkriminalkan ICW dan lain-lain itu bagian dari pembungkaman,” ujarnya.

Seperti diketahui, pihak Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengirimkan surat somasi kedua kepada ICW dengan waktu 3×24 jam.

ICW diminta untuk membuktikan tuduhan dan meminta maaf atau mencabut pernyataan tentang temuan terkait promosi Ivermectin serta bisnis ekspor beras.

Jika tidak, Moeldoko akan melaporkan ICW ke polisi.

“Kita berikan waktu yang cukup kepada 3×24 jam. Baik sekali Pak Moeldoko ini, dia bilang bahwa supaya ada waktu yang cukuplah,” jelas Pengacara Moeldoko, Otto Hasibuan, Kamis (5/8).

“Jangan nanti dibilang kita ini sewenang-wenang, kalau 1×24 jam nggak cukup, ya kita kasih 3×24 jam,” katanya lagi.

“Karena bagi kita yang penting itu dia bisa membuktikan atau tidak. Jangan sembarang menuduh,” ujarnya.

“Kalau kemarin kami beri 1×24 jam, mungkin itu tidak cukup walaupun sebenarnya mereka sudah menyelidiki satu bulan, Pak Moeldoko bilang kasih lagi kesempatan dia, kasih kesempatan untuk bisa membuktikan apakah Pak Moeldoko yang benar atau ICW yang benar,” imbuhnya.

Dia mengatakan ICW perlu membuktikan di mana dan dari siapa Moeldoko mendapatkan keuntungan dalam peredaran Ivermectin.

Selain itu, ICW diminta membuktikan dengan cara apa Moeldoko melakukan ekspor beras.

“Pertama kapan, di mana, Pak Meoldoko terlibat mendapatkan buru rente dan mendapatkan keuntungan dalam peredaran Ivermectin,” katanya.

“Kalau ada keuntungan yang didapatkan siapa yang memberikan untuk memberikan untung, memberikan rente kepada Pak Meoldoko,” jelasnya.

“Kedua, kapan dan di mana dan dengan siapa dan dengan cara apa Pak Moeldoko bekerja sama dengan PT NoorPay melakukan ekspor beras,” kata Otto. (ral/int/pojoksatu)