Hamid Awaluddin: Gagal Paham Jika Percaya Sumbangan Akidi Tio Sebelum Cair

Hamid Awaluddin

POJOKSATU.id, JAKARTA – Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Hamid Awaluddin membuat pernyataan menohok terkait sumbangan keluarga Akidi Tio Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19.


Menurut Hamid Awaluddin, sumbangan keluarga Akidi Tio Rp2 triliun disambut riuh dan tepuk tangan para pejabat.

Banyak yang kagum dan memuja ketulusan itu, sebab di tengah lilitan utang negara dan derita akibat Covid-19, ada warga negara yang memberikan hartanya untuk kemaslahatan orang banyak.

“Saya tidak bertepuk tangan. Saya tidak memberi rasa kagum, apalagi pujian. Saya malah kian sanksi mengenai akal waras kita semua,” kata Hamid Awaluddin dalam opininya yang tayang di kompas.com berjudul “Akidi Tio, Rp 2 Triliun, dan Pelecehan Akal Sehat Para Pejabat” pada Minggu (1/8).


“Saya kian teguh bahwa para pejabat di negeri ini, sama sekali belum belajar dari berbagai kejadian masa lalu,” tambah pria asal Sulawesi Selatan ini.

BACA: Sumbangan Akidi Tio Rp2 T Belum Cair, Mahfud MD Ungkit Harta Karun Tak Bisa Divalidasi

Menkumham era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mengatakan, sejumlah orang telah melecehkan akal sehat dan memarjinalkan tingkat penalaran para pejabat negeri ini.

“Hingga uang Rp2 triliun tersebut benar-benar sudah di tangan, saya tetap menganggap bahwa di negeri ini masih banyak orang yang ingin mempopulerkan diri dengan cara melecehkan akal waras para pejabat,” katanya.

Gagal Paham Jika Percaya

Hamid Awaluddin menegaskan tidak akan mempercayai sumbangan Akidi Tio Rp2 triliun sebelum bantuan itu benar-benar sudah diterima.

“Ini sebuah gagal faham bila hendak mempercayai, sebelum benar-benar uang itu ada. Akidi Tio bukanlah seseorang yang memiliki jejak jelas di bidang usaha,” katanya.

“Dari mana uang sebanyak itu? Apakah lembaga perpajakan pernah mengetahui dan memungut pajak dari Akidi sedemikian banyak?,” tanya Hamid.

Menurut Hamid, rentetan pertanyaan logis itu harus digunakan sebelum mempercayainya.

Yang mungkin terjadi, kata Hamid, ahli waris almarhum Akidi Tio, menemukan catatan-catatan tercecer almarhum, yang memilik kesamaran tentang harta almarhum.

“Lalu, para ahli warisnya membangun mimpi-mimpi indah disertai dengan halusinasi mengenai catatan-catatan tersebut,” katanya.

“Untuk mewujudkan halusinasi itu, ada baiknya meminjam tangan negara melalui para pejabat dengan seribu janji,” tandas Hamid Awaluddin. (one/pojoksatu)