Bupati Madina Sukhairi Nasution Berharap Telkomsel Perluas Jaringan di Tambangan

Bupati Madina Jafar Sukhairi Nasution bersama Wakil Bupati Atika Azmi (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA— Bupati Mandailing Natal (Madina) Jafar Sukhairi Nasution mendukung perluasan jaringan internet di wilayah Kecamatan Tambangan, terutama jaringan Telkomsel.


Menurut Bupati Madina yang baru seminggu dilantik ini, kondisi susahnya jaringan internet dan telepon di wilayah Tambangan, sudah diketahui bupati melalui adanya surat proposal.

Surat proposal yang diajukan masyarakat tiga desa mestinya ditanggapi dengan baik oleh Telkomsel.

Surat itu diajukan warga Desa Tambangan Tonga, Tambangan Pasoman dan Rao-rao Lombang.


Bupati juga berharap agar Camat Tambangan ikut serta mengajukan proposal demi mendukung surat proposal warga itu.

“Sebaiknya proposal warga dibantu proposal dari pihak kecamatan. Nanti saya perintahkan Camat Tambangan untuk membuat proposal pengajuan,” kata Sukhairi via telepon, Jumat (30/7).

Menurutnya, jaringan internet diperlukan di Tambangan, karena banyak fasilitas kesehatan dan pendidikan milik pemerintah di sana.

Seperti diketahui, di usia 75 tahun Indonesia Merdeka, tiga desa di Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal (Madina) ini masih terisolir dari jaringan telepon seluler.

Paling miris nasib anak sekolah.

Tiga desa ini meliputi Desa Tambangan Tonga, Tambangan Pasoman dan Rao-rao Lombang.Ketiga desa ini berada di Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Padahal jumlah penduduk 3 desa ini mencapai 750 KK.

Salah seorang warga di Desa Rao-rao Lombang, Saiful (45), mengatakan, anak usia sekolah SMP hingga kuliah harus menempuh jarak 6 km demi bisa belajar online atau daring di masa pandemi ini.

Anak sekolah perempuan harus diantar orangtuanya karena jarak yang harus ditempuh hingga 6 km demi mendapatkan sinyal internet atau 4G.

“Kalau mau sinyal internet yang bagus harus ke Sabarimbahan,” katanya.

Senada Yusuf (56) warga Desa Tambangan Tonga, mengaku repot saat mengantar anak perempuannya yang akan belajar atau kuliah online.

Jarak yang ditempuh hingga 3 km dari rumahnya ke lokasi jaringan internet.

“Anak saya kuliah di Yogyakarta. Tiap hari kuliah online. Paling bikin repot itu kalau malam hari, ada tugas mendadak dari kampus,” jelasnya.

“Jam sepuluh malam, saya harus antar anak saya ke halaman rumah orang untuk mengirimkan tugas kuliah. Kadang harus ke Sabarimbahan supaya lebih mudah mengirim tugas,” katanya.

Yusuf mengaku anak perempuannya kuliah di Universitas Veteran Yogyakarta. (ral/pojoksatu)