Politisi Demokrat: Harapan Kami Partai Koalisi Lainnya Ikut memikirkan Lockdown

Presiden Jokowi memberikan arahan kepada kepala daerah terkait penanganan pandemi Covid-19
Presiden Jokowi memberikan arahan kepada kepala daerah terkait penanganan pandemi Covid-19

POJOKSATU.id, JAKARTA— Politisi Demokrat Syahrial Nasution kembali mengkritik kebijakan Jokowi dan sekaligus mendukung kritikan yang dilakukan Effendi Simbolon ke pemerintah Jokowi soal lockdown.


“Semoga PDIP mulai memahami bahwa kritik yang dilakukan Demokrat mempertimbangkan keselamatan nyawa manusia lebih utama ketimbang ngotot soal infrastruktur,” jelas Syahrial Nasution melalui akun Twitternya, Sabtu (31/7).

Cuitan ini menyikapi kritikan keras yang dilakukan politisi PDIP Effendi Simbolon kepada Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin yang tak kunjung mengambil kebijakan lockdown selama 2 tahun pandemi di Indonesia.

”Dan harapan kami, partai-partai koalisi lainnya ikut memikirkan karantina wilayah (lockdown) utk penyelamatan. Sekali lagi, penyelamatan,” tegas politisi Demokrat ini.


Baca Juga :

Politisi PDIP Ini Salahkan Jokowi, “Presiden Tak Patuh Konstitusi, Kalau Patuh Sejak Awal Lockdown”

Berita sebelumnya, Politikus PDIP Effendi Simbolon menyalahkan Presiden Jokowi yang tidak mau menerapkan lockdown sejak awal pandemi Covid-19 tiba di Indonesia pada Maret 2020 lalu.

“Pemerintah sejak awal tidak menggunakan rujukan sesuai UU Karantina itu, di mana kita harusnya masuk ke fase lockdown,” jelas Effendi Simbolon, Sabtu (31/7/2021).

“Tapi kita menggunakan terminologi PSBB sampai PPKM. Mungkin di awal mempertimbangkan dari sisi ketersediaan dukungan dana dan juga masalah ekonomi,” katanya.

“Pada akhirnya yang terjadi kan lebih mahal ongkosnya sebenarnya, PSBB itu juga Rp 1.000 triliun lebih ya di tahun 2020 itu,” ujarnya lagi.

Menurut Efendi Simbolon, sikap Jokowi yang tak mau mengambil kebijakan lockdown ini adalah pembangkangan atau ketidakpatuhan pada konstitusi.

“Presiden tidak patuh konstitusi. Kalau dia patuh sejak awal lockdown, konsekuensinya dia belanja kan itu. Sebulan Rp 1 juta saja kali 70 masih Rp 70 triliun. Kali 10 bulan saja masih Rp 700 triliun,” tegasnya.

“Masih di bawah membanjirnya uang yang tidak jelas ke mana larinya. Masih jauh lebih efektif itu daripada vaksin,” sambungnya lagi.

Politis PDIP berdarah Batak ini membeberkan sudah banyak negara lain yang sukses mengatasi pandemi Covid-19 dengan cara lockdown.

Dia mengatakan virus Corona itu bisa dicegah penularannya dengan cara semua orang tetap berada di rumah.

Hanya, kata Effendi, alih-alih memilih lockdown, Indonesia justru menerapkan PPKM. Effendi menyatakan hasil dari PSBB hingga PPKM hanya ‘0’ dan cenderung minus.

“PPKM ini dasarnya apa? Rujukannya apa? Arahan Presiden? Mana boleh,” tegasnya seperti dilansir detikcom.

“Akhirnya panik nggak karuan, uang hilang, habis Rp 1.000 triliun lebih. Erick Thohir belanja, Menkes belanja. Dengan hasil 0. Minus malah. Ini herd immunity karena iman saja,” tukas Effendi. (ral/int/pojoksatu)