Ridwan Kamil Singgung Pilpres: Dulu Mah Dunia Tidak Sebising Ini

Ridwan Kamil saat berdialog dengan AMSI Jabar

POJOKSATU.id, BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyinggung pelaksanaan pemilihan presiden (Pilpres) 2014 dan 2019 yang menimbulkan pertengkaran antar pendukung sampai sekarang.


“Ada satu kegelisahan saya, itu bangsa kita ini selama dua kali Pilpres ya, itu mudah banget bertengkar,” ucap Ridwan Kamil saat diskusi virtual dengan pengurus Asosiasi Media Siber Indonesia atau AMSI Jabar, Kamis (29/7).

“Saya itu bingung, dulu mah dunia tidak sebising ini,” tambah mantan Wali Kota Bandung ini.

Pertengkaran para pendukung calon presiden menyebabkan berita yang disajikan kepada masyarakat pun menjadi tidak sehat.


“Sekarang semua dibikin bertengkar dan itu melelahkan. Itu mempengaruhi otak, sehingga banyak orang stres karena baca berita yang isinya pertengkaran,” kata Ridwan Kamil.

Gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini mengatakan, kelompok pendukung rezim dijuluki kecebong, yang anti rezim dijuluki kampret atau kadrun.

“Saya yang mencoba melakukan akal sehat nih, kadang mengkritisi kayak impor beras itu kan, sama diserang juga. Padahal, logika saya sederhana,” jelas Kang Emil.

BACA: Kegelisahan Ridwan Kamil Terungkap Saat Diskusi dengan AMSI Jabar

Ridwan Kamil menyebut dirinya masuk dalam kategori kejepret. Namun dia juga kerap dijuluki kecebong.

Ia berharap AMSI Jabar dapat mengatasi hal itu dengan mewadahi para kelompok yang sering bertengkar itu bertemu di ruang dialog.

“Nah bagaimana AMSI mereduksi perjalanan bangsa ini, sehingga bangsa ini mengurangi dosis pertengkarannya, menjadi dosis dialog,” imbuhnya.

“Kita ini tidak pernah dilatih (debat). Beda waktu saya sekolah di Amerika. Kalau di Amerika senang dikonfrontir orang yang berbeda pendapat itu,” jelasnya.

Ridwan Kamil berharap budaya dialog lebih dikedepankan untuk mengurangi pertengkaran yang tak berujung.

“Kalau dilatih budaya kita berdialog oleh AMSI ini, misalnya pendukung rezim dan anti rezim, akhirnya ketemu persamaannya,” katanya.

“Apa persamaannya? Sama-sama cinta Indonesia, Indonesia Raya, Pancasila, NKRI, minimal kan ketemu di situ. Jangan-jangan cintanya sama, caranya berbeda,” tambahnya.

Ridwan Kamil berharap AMSI Jabar menjadi motor bagi mereka yang kerap berbeda pendapat untuk bertemu di ruang dialog.

AMSI Jangan Hanya Jadi Tempat Kumpul-kumpul

Ridwan Kamil mengatakan salah satu masalah dalam era informasi saat ini adalah memilah informasi. Sebab, informasi cukup banyak berseliweran.

“Ada masalah hari ini memilah informasi karena semua orang adalah media,” ucap Ridwan Kamil.

“Contoh saya, followers IG saya, 14 juta followers. Itu kan ibaratnya Ridwan Kamil online. Si 14 juta followers saya ini kan nunggu berita apa nih dari Ridwan Kamil online, kan kasarnya begitu. Siang apa, malam apa, kan begitu,” ujarnya.

Menurut Ridwan Kamil, semua orang bisa memproduksi berita dan menyebarkan informasi.

Ia berharap media yang tergabung di AMSI Jabar menyajikan berita yang relevan dengan kebutuhan pemerintah dan masyarakat.

“Oleh karena itu, bagaimana AMSI ini relevan. Jangan hanya jadi tempat kumpul-kumpul,” cetus Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil menyarankan agar semua media anggota AMSI Jabar memperjuangkan media sosialnya agar mendapat centang biru.

“Coba perjuangkan itu, karena centang biru di era digital ini adalah ibaratnya ISO, sertifikasi,” jelasnya.

“Dengan begitu, saya gampang mempromosikan AMSI. Ini masukan saya sebagai orang digital juga,” tandas Ridwan Kamil. (one/pojoksatu)