Ini Pesan Akidi Tio Sebelum Meninggal, Tamparan Keras Buat Konglomerat

Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri terima bantuan Rp2 triliun dari keluarga Akidi Tio

POJOKSATU.id, JAKARTA – Tak banyak yang tahu siapa Akidi Tio, pengusaha asal Sumatera Selatan (Sumsel) yang telah meninggal pada 2009 lalu.


Akidi Tio tidak terkenal seperti kebanyakan konglomerat Indonesia. Tapi namanya mendadak jadi perbincangan heboh setelah keluarganya menyumbang Rp2 triliun untuk membantu penangnan pandemi Covid-19 di Sumsel.

Akidi telah meninggal dunia 11 tahun lalu. Tapi namanya hidup kembali menampar begitu banyak konglomerat negeri ini, terutama orang kaya yang suka pamer harta tapi pelit menyumbang.

Rudi Sutadi, menantu Akidi Tio mengatakan bahwa uang sumbangan Rp2 triliun itu merupakan tabungan dari ayah mertuanya semasa hidup.


Rudi mengungkap pesan Akidi Tio sebelum meninggal pada 2009 lalu. Ia mengatakan Akidi sempat berpesan agar menyalurkan dana yang ia kumpulkan ketika dalam keadaan sulit, sehingga bisa membantu warga yang membutuhkan.

Penyaluran dana Rp 2 triliun tersebut merupakan permintaan dari Akidi sebelum meninggal dunia.

BACA: Keluarga Akidi Tio Tak Nyaman Sumbangan Rp2 Triliun Jadi Heboh

Akidi adalah etnis Tionghoa. Ia lahir di Langsa, Aceh Timur. Akidi Tio meninggal dunia dalam usia 89 tahun. Ia dimakamkan di Palembang.

Meskipun berasal dari Aceh, pengusaha sukses yang bergerak di bidang kontraktor dan perkebunan sawit itu telah lama menetap di Palembang.

Keluarga besar almarhum Akidi Tio tak ingin terlalu terekspose oleh media, karena memberikan sumbangan itu secara ikhlas tanpa pamrih.

“Biarlah ini menjadi kebaikan Pak Akidi, kami tidak minta syarat apapun. Seluruhnya diserahkan ke pihak terkait untuk mengelola dana itu,” kata Rudi.

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Sumbangan keluarga Akidi Tio Rp2 triliun yang diserahkan secara simbolis kepada Kapolda Sumsel pada Selasa (26/7) itu mendapat perhatian mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

“Saya tidak tahu apakah akan ada dokumen yang menyertai transfer dana itu. Yang jelas tidak ada dokumen apa pun yang ditandatangani Selasa lalu,” kata Dalam Iskan dalam tulisannya berjudul “Pusing 2 T” pada Kamis (29/7).

Hari itu, Selasa siang lalu, dikira hanya ada acara rutin di ruang rapat lantai 3 Polda Sumsel.

Wartawan tulis tidak boleh naik ke lantai 3. Hanya fotografer yang diizinkan. Wartawan menunggu di lantai bawah, menunggu para pejabat itu turun untuk diwawancarai secara door stop.

Saat para pejabat itu turun Kapolda memberikan keterangan pers: ia baru saja menerima sumbangan Rp 2 triliun dari keluarga Akidi Tio.

“Saya pun mewawancarai fotografer harian Sumatera Ekspres, Evan Zurmali. Ia ada di ruang rapat lantai 3 itu. Saya meminjam mata Evan untuk menggambarkan acara hari itu,” kata Dahlan Iskan.

Di depan sana duduk berderet gubernur Sumsel, kapolda, dan danrem. Di sisi kiri depan terlihat empat tokoh dari empat agama. Di deretan itu juga ada seorang wanita Tionghoa setengah baya.

Di meja sisi kanan duduk Prof Dr Hardi dan beberapa pejabat Polda.

Sebelum acara dimulai Evan sempat bertanya kepada pejabat yang ada di ruang itu: ini acara apa?

“Penyerahan bantuan dari keluarga Akidi,” jawab pejabat itu.

“Berapa sumbangannya?” tanya Evan.

“Tidak tahu”.

Pikir Evan, sumbangan itu pasti miliaran rupiah. Kok sampai dilakukan di depan pejabat tertinggi di Sumsel.

MC pun membuka acara “penyerahan bantuan Rp 2 triliun dari keluarga Akidi Tio”. Lalu mempersilakan perwakilan keluarga Akidi memberi sambutan.

Prof Hardi pun berbicara. Ia tetap duduk di kursinya. Sudah ada mikrofon di situ. Prof Hardi berbicara selama lima menit. Ia menceritakan bahwa dirinya, keluarga Akidi, dan kapolda itu sudah lama bersahabat.

Prof Hardi tidak detail menceritakan seperti apa persahabatan lama itu. Lantas Prof Hardi mengatakan bahwa keluarga Akidi ingin menyumbang Rp 2 triliun.

MC pun lantas mempersilakan gubernur Sumsel untuk juga memberi sambutan. Tapi sang Gubernur nyeletuk: agar penyerahan sumbangannya yang didahulukan.

Maka MC pun memanggil keluarga Akidi maju ke depan. Kapolda mengajak Prof Hardi untuk ikut maju. Beliau tidak mau. “Cukup yang mewakili keluarga. Saya hanya menemani,” katanya.

Siapa yang mewakili keluarga Akidi? Ternyata wanita Tionghoa yang duduk bersama para tokoh agama di sisi kiri itu tadi. Evan kaget. Lho ternyata dia yang keluarga Akidi. Menyumbang Rp 2 triliun hanya duduk di tempat seperti itu.

Sang wanita didampingi seorang laki-laki berbaju batik. Kepala laki-laki itu botak. Evan tidak tahu siapa bapak itu. Kok ia ikut memegang papan sumbangan. Yang jelas ia bukan suami wanita tadi. Sang suami tidak ikut di acara itu.

Tokoh-tokoh agama tidak ikut berdiri di depan.

Seorang petugas Polda lantas menuju meja dekat MC. Ia mengambil papan kecil terbuat dari stereo form yang ada di meja itu.

Papan kecil itu diserahkan ke wanita tadi untuk diserahkan ke kapolda. Lalu foto bersama. Di papan yang dicat warna merah itulah tertulis: Sumbangan untuk penanggulangan Covid-19 dan Kesehatan di Palembang-Sumsel.

Tulisan itu berwarna kuning.

Lalu ada tulisan lagi di bawahnya. Berwarna putih: Dari ALM BPK AKIDI TIO DAN KELUARGA BESAR SEBESAR Rp 2 TRILIUN.

Di sebelah tulisan putih itu tertampang foto kecil Alm Akidi Tio. Sangat kecil. Pakai jas dan dasi. Ada bunga kecil di bagian dada.

Jelaslah, di samping untuk Covid, sumbangan itu juga untuk kesehatan. Atau sebenarnya terserah saja.

Setelah acara itu selesai mereka turun untuk bertemu wartawan di bawah. Tidak ada wartawan yang mewawancarai si wanita.

“Saya akhirnya tahu nama wanita itu: Heryanti. Alias Ahong. Dia adalah salah seorang dari tujuh anak Akidi. Saya juga mendapatkan nomor telepon Heryanti. Saya hubungi. Tidak menjawab. Saya juga menghubungi suami Heryanti: Rudy Sutadi. Juga tidak berhasil,” jelas Dahlan.

Dahlan Iskan menghubungi Prof Hardi sekali lagi kemarin sore. Ia ingin bertanya apakah dana itu jadi ditransfer kemarin.

Namun telepon mantan Dirut PLN ini di-reject. WA juga tidak dibalas, meski ada tanda sudah dibaca.

“Tapi saya tetap hormat. Sehari sebelumnya beliau telah banyak menjawab pertanyaan saya,” kata Dahlan.

Dahlan kemudian menghubungi Ibnu Holdun, wartawan Sumatera Ekspres yang telah ke rumah Heryanti. Rumah itu, kata Holdun, kosong. Pagarnya ditutup dan dikunci.

Rumah anak Akidi Tio di Palembang (Foto: Ibnu Choldun/Sumeks).

Rumah itu lebih bagus dari tetangga sekitar, tapi tidak mencerminkan rumah orang kaya raya.

“Saya menyadari masih begitu banyak pertanyaan di seputar sumbangan Rp 2 triliun ini. Akidi telah menampar begitu banyak konglomerat negeri ini. Dan ia tidak peduli. Ia sudah 11 tahun mati,” imbuh Dahlan.

“Akidi telah lama meninggal dunia. Tapi namanya hidup kembali. Ia telah mengalahkan orang-orang yang masih hidup menjadi seolah-olah sudah lama mati,” pungkas Dahlan Iskan. (one/pojoksatu)