Kegelisahan Ridwan Kamil Terungkap Saat Diskusi dengan AMSI Jabar

Diskusi virtual Ridwan Kamil dengan AMSI Jabar

POJOKSATU.id, JAKARTA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan kegelisahannya saat berdiskusi virtual dengan para pengurus Asosiasi Media Siber Indonesia Jawa Barat (AMSI Jabar) pada Kamis (29/7).


Ridwan Kamil mengatakan salah satu masalah yang dihadapi masyarakat sekarang ini adalah memilah informasi.

Menurut Ridwan Kamil, dulu berita itu dicari. Sekarang, informasi yang sudah terlalu banyak.

“Masalah sekarang adalah memilah informasi, bukan lagi mencari. Kenapa? Karena informasinya terlalu banyak,” kata Ridwan Kamil.


“Dulu nonton TV harus sesuai jamnya, sekarang saya nonton hiburan tinggal nonton Youtubenya, versi telatnya, tidak harus on time,” tambahnya.

Mantan Walikota Bandung ini mengatakan, penduduk Indonesia 270 juta jiwa, tapi jumlah HP mereka lebih dari 300 juta. Rata-rata pejabat memiliki HP lebih dari satu.

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini lantas mengungkapkan kegelisahannya soal industrialiasi di tanah air.

“Saya sebagai anak bangsa ya, mohon maaf, ada kegelisahan karena kita ini melewati masa industrialisasi, lompat ke era informasi,” ucapnya.

“Jadi kita ini bangsa besar tapi bisanya beli, tidak bisa produksi. Makanya laptop, HP, mobil, motor itu masih buatan luar negeri. Jadi ada proses di bangsa ini yang terlewat,” katanya.

Menurutnya, era informasi bermasalah bagi masyarakat yang belum siap. Sebab, ruang informasi menawarkan anonimisitas, sehingga muncullah banyak akun anonim pembuat gaduh.

“Itu menimbulkan orang-orang yang mentalnya tidak siap terhadap percakapan, dialog, itu bersembunyi di situ. Lahirlah buzzer, lahirlah akun anonim, dan lain sebagainya,” kata Kang Emil.

Menurut Ridwan Kamil hal tersebut merupakan dampak dari kesalahan masa lalu di bangsu sekolah.

Dulu, siswa yang mengkritik guru dianggap tidak sopan. Sekarang ketemu digital jadi tidak sopan dan cenderung kasar.

“Mengkritisi, berargumen dengan guru, dulu dianggap gak sopan, sehingga kita tidak terlatih,” ucapnya.

“Sekarang kalau ngeritik pemerintah kasar dulu baru substansinya,” jelasnya.

Kang Emil berharap AMSI Jabar bisa mengatasi hal tersebut dengan menyediakan ruang diskusi dan dialog.

“Kami merindukanlah di dunia cyber itu dialog yang santun, berbobot. Nah itulah tugasnya AMSI menggiring bangsa ini jangan monolog. Itu penting,” tegas Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil mengaku siap untuk selalu berdiskusi dengan AMSI Jawa Barat.

Karena itu, dia meminta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jabar, Setiaji untuk memfasilitasi.

“Nanti banyak yang bisa kita bahas dari perspektif saya tentang kebangsaan, teknologi,” tandas Ridwan Kamil.

Konten Sehat, Perusahaan Sehat

Sementara itu, Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan, AMSI ada di 23 provinsi. Anggota AMSI lebih dari 230 media.

Pria yang akrab disapa Wens ini menjelaskan latar belakang dibentuknya organisasi AMSI.

Menurut Wens, AMSI lahir karena ada kegelisahan tentang banyaknya problematika media online.

“Mestinya media tidak menjadi bagian dari masalah. Nah yang kita temukan ternyata media bagian dari masalah. Maka, kami menginisiasi pembentukan AMSI,” kata Wens.

Problematika yang dimaksud Wens yakni munculnya banyak media abal-abal, bisnisnya tidak jelas, dan wartawan begitu banyak.

“Hal itu bisa berimbas terhadap ekosistem media. Lama-lama media tidak dipercaya,” ucapnya.

Atas dasar itu, dibentuklah AMSI dengan harapan masalah-masalah tersebut bisa diatasi.

Menurut Wens, media yang tergabung di AMSI harus terferivikasi di Dewan Pers, jurnalisnya harus ikut uji kompetensi wartawan (UKW).

Dari sisi bisnis, kata Wens, AMSI membantu memberikan pemahaman dan model bisnis digital kepada anggotanya.

AMSI juga aktif memberikan pelatihan dan pendidikan kepada wartawan yang medianya tergabung di AMSI.

“Pelatihan terus dilakukan untuk memperbaiki kinerja di internal media dan organisasi,” ucapnya.

Wens berharap agar pemerintah daerah membuka diri untuk berkolaborasi dengan media yang tergabung di AMSI.

Ketua AMSI Jabar, Riana A. Wangsadiredja mengatakan AMSI Jabar memiliki 25 anggota.

“Banyak media yang mau gabung, tetapi kita batasi. Media yang bergabung di AMSI Jabar harus terferivikasi Dewan Pers, minimal ferivikasi adminsitrasi,” ucap Riana.

Riana menambahkan, media yang tergabung di AMSI Jabar memiliki komitmen agar kontennya sehat dan perusahannya juga sehat. (one/pojoksatu)