Soal Pungli di TPU Cikadut, Pemkot Beberkan Upah Rata-rata Pemikul Jenazah

Gubernur Jabar Ridwan Kamil meninjau proses pemakaman pasien COVID-19 di TPU Cikadut, Kota Bandung, Rabu (8/4/20). (Foto: Humas Pemprov Jabar)

POJOKSATU.id, BANDUNG- Pasca ramai soal adanya pungutan liar (pungli) saat pemakaman terhadap jenazah korban virus covid-19, Pemkot Bandung kembali menjelaskan soal status 35 orang warga di sekitar TPU Cikadut Kota Bandung yang direkrut Pemerintah Kota dan diangkat sebagai Pekerja Harian Lepas atau PHL pada bulan Februari 2021 lalu.

Kepala Dinas Tata Ruang Pemkot Bandung Bambang Suhari mengatakan, para tukang pikul jenazah tersebut mendapatkan upah senilai Rp 2,6 juta dalam sebulan.

“Jadi upah tersebut dinilai lebih tinggi dibanding dengan upah PHL lain yang bekerja di TPU lain yang tersebar di Kota Bandung. PHL lain mendapat upah senilai Rp 2,1 juta,” paparnya, Rabu, 14 Juli 2021.

Ditambahkannya, para tukang pikul tak mendapatkan insentif di luar upah yang diterima tiap bulan.


Selain itu, menurut Bambang, mereka tak mendapat asuransi kesehatan. Dipastikan, 35 orang itu hanya bertugas untuk memikul jenazah sementara tugas menggali makam dilakukan PHL lainnya yang berjumlah 17 orang.

“Belum ada (asuransi kesehatan)” jelasnya.

Bambang menuturkan, para tukang pikul jenazah tak memiliki jam kerja dalam sehari.

“Biasanya, mereka akan dibagi ke dalam tiga kelompok dan bekerja bergantian sejak pagi hingga malam. Dipastikan, dalam bekerja, mereka dilengkapi alat pelindung diri atau APD yang disuplai langsung oleh Satgas COVID-19 Kota Bandung,” paparnya.

Untuk APD, ditambahkan oleh Bambang bahwa disediakan Satgas Covid.

“APD selalu disediakan oleh Satgas Covid kota,” kata dia.

Jika jenazah yang dimakamkan sedang membeludak, sambung Bambang, biasanya warga sekitar yang tak berstatus sebagai PHL dan diupah pemerintah bakal ikut membantu memikul jenazah. Hal tersebut menjadi persoalan beberapa waktu lalu sebab ada dugaan pungli yang dilakukan pada ahli waris jenazah.

“Ya itu kemarin yang membeludak itu 65 itu, warga sekitar yang ikut membantu. Warga gak dapet (upah)” ujar dia.

Sebelumnya, dari hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan polisi, tak ada unsur pungli dalam kasus itu. Redy dan Yunita telah mencapai kesepakatan untuk jasa mengurusi jenazah. Bahkan, belakangan uang senilai Rp 2,8 juta pun telah dikembalikan dan dua pihak sudah sepakat untuk berdamai.

(rif/pojoksatu)