Hasil Survei Serologi FKM UI, 90,1 Persen Kasus Covid-19 di DKI Jakarta Tidak Terdeteksi

Gebyar Vaksinasi Covid-19, Pemkab Gowa Target 12 Ribu Penerima Vaksin
Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan memantau pelaksanaan Gebyar Vaksinasi Covid-19. (Foto: dok. Humas Pemkab Gowa)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sebanyak 91,9 persen kasus Covid-19 di DKI Jakarta tidak terdeteksi. Itu sebaimana hasil survei serologi tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

Epidemiolog FKM UI Pandu Riono dilansir dari Antara, mengatakan, deteksi kasus Covid-19 masih sangat rendah.

Proporsi kasus yang terdeteksi hanya 8,1 persen sedangkan 91,9 persen tidak terdeteksi oleh sistem.

“Kalau kita melihat data sekian banyak di DKI, sebenarnya yang terjadi di populasi bisa jauh lebih banyak karena yang dilaporkan atau terdeteksi dalam sistem hanya 8,1 persen,” ucap Pandu saat diskusi virtual Persepi di Jakarta, Selasa (13/7).


Diketahui bahwa survei serologi dilakukan untuk mengukur respons imun terhadap suatu antigen dari sediaan darah seseorang.

Hasil penelitian itu menunjukkan dari kasus Covid-19 di Jakarta yang tidak terdeteksi itu, 57,4 persen di antaranya tidak bergejala dan 34,0 persen bergejala.

Angka itu memperlihatkan jumlah pasien orang tanpa gejala (OTG) cukup tinggi dan tidak terdeteksi oleh sistem.

Masih dari penelitian tersebut, OTG didominasi oleh kelompok umur muda, di antaranya 70,8 persen pada usia 1-14 tahun dan 65,9 persen pada usia lebih dari atau sama dengan 1 tahun.

Sisanya, 62,6 persen pada usia 15-49 tahun dan 55,7 persen pada usia lebih dari 50 tahun.

“Ini mengindikasikan bahwa sistem testing kita di DKI walaupun sangat tinggi tetap tidak bisa mengidentifikasi atau mendeteksi sebagian mereka yang memang sudah terinfeksi,” ungkapnya.

Ada Missing Link

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander K. Ginting mengatakan DKI Jakarta memiliki tingkat testing yang tinggi, melebihi standar WHO.

Tetapi hal itu belum bisa mencerminkan apa yang dikatakan dalam penelitian serologi ini.

“Ada sesuatu hal yang harus kita cari bagian missing link-nya,” ucap dr Alexander.

Alexander mengatakan, penelitian itu bermanfaat untuk melihat kembali apakah 3T (testing, tracing, dan treatment) harus dicari dalam model yang baru.

“Hasil penelitian ini bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat bagi semua pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan partisipasi dalam penerapan prosedur kesehatan serta pelaksanaan 3T,” tuturnya.

Direktur Riset SMRC Deni Irvani menilai hasil survei serologi itu tidak mengonter data terkonfirmasi Covid-19 yang dirilis pemerintah.

“Justru ini adalah informasi yang sangat bermanfaat bagi pemerintah dan kita semua bahwa Covid-19 diestimasi sudah sangat menyebar di DKI Jakarta,” pungkas Deni.

Untuk diketahui, metode survei ini dirancang untuk menggambarkan prevalensi penduduk di Jakarta yang pernah terinfeksi Covid-19 atau yang antibodi SARS CoV-2-nya terdeteksi.

Survei yang dilakukan FKM UI pada 15-31 Maret 2021 itu bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia.

Survei serologi tersebut mengambil 4.919 sampel (98,4 persen) dari target sampel 5000 penduduk usia 1 tahun lebih yang tersebar di 100 kelurahan pada enam wilayah administrasi DKI Jakarta.

Untuk pemeriksaan antibodi SARS CoV-2 menggunakan tes akurat yang disumbangkan oleh US CDC dengan tetracore-luminex. (ant/ruh/pojoksatu)