Positif Covid-19, Warga Bandung Diusir Warga dan Lurah Saat Isoman, Begini Jawaban Camat

Ilustrasi Virus Corona
Ilustrasi Virus Corona

POJOKSATU.id, JAKARTA- Ditengah situasi pandemi Covid-19 ini, banyak warga yang masih belum memahami situasi saat ini.

Seperti halnya yang terjadi di Bandung, dimana terjadi pengusiran oleh warga saat warga lain melakukan isolasi mandiri.

Seorang warga di Kota Bandung dengan nama akun @serpentine6666 viral di media sosial baru-baru ini, lantaran dirinya yang sedang menjalani isolasi secara mandiri setelah terinfeksi virus corona menerima cacian dari warga hingga lurah di tempat tinggalnya di wilayah Kelurahan Gumuruh, Kecamatan Batununggal.

Dalam unggahan yang disertai dengan video tersebut, dia mengaku meminta bantuan.


Dia bersama ibu dan kekasihnya sedang menjalani isolasi di rumah sesuai anjuran dari pihak rumah sakit. Namun, dia mengaku menerima cacian bahkan diusir.

“Gw ga bertujuan untuk bawa2 ini kesini sebenernya tapi tolong siapapun yg punya saran bantuin gw…Gw, ibu gw dan pacar gw positif covid19 dan isoman di rumah atas suruhan rumah sakit. Tapi kami udah abis2an banget diusir, dicaci maki sama warga dan lurah/rt sini. Udah bingung,” bunyi unggahannya sebagaimana dilihat, Rabu (23/6).

Camat Batununggal, Tarya, memberikan klarifikasi atas unggahan tersebut. Menurut dia, petugas kesehatan dan Ketua RT setempat mulanya mendapatkan informasi adanya warga yang terkonfirmasi positif corona. Warga itu merupakan pendatang yang telah mengontrak selama enam bulan di sebuah rumah.

Kemudian, petugas kesehatan bersama Satgas Covid di kewilayahan mendatangi warga itu untuk melakukan pengecekan sekaligus memberikan sosialisasi perihal isolasi mandiri.

Dari informasi yang dihimpun, kata dia, warga yang terkonfirmasi positif corona di rumah itu bernama Rafasha Oktaviani.

“Warga yang terkonfirmasi positif sebanyak satu orang atas nama Rafasha Oktaviani. Warga tersebut tinggal bersama ibu dan satu orang famili lainnya,” kata dia melalui keterangan tertulisnya.

Dia sempat mengecek, kata Tarya, Ketua RT menawarkan bantuan agar warga yang ada di kontrakan itu tinggal di tempat terpisah sementara waktu untuk mencegah penularan. Namun, ibu dari Rafasha merasa khawatir dengan kondisi anaknya. Adapun dari hasil tes rapid antigen, ibu dari Rafasha pun dinyatakan terinfeksi.

“Ibu dari Saudari Rafasha merasa khawatir dengan anaknya sehingga memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakan dan setelah dilakukan tes antigen tgl 22 Juni 2021 didapati ibu dari Rafasha dinyatakan positif. Begitu pula dengan Ilman (kekasih Rafasha) juga dinyatakan positif dari hasil swab antigen,” terangnya.

Ketika melakukan pengecekan ke lapangan, menurut Tarya, memang sempat terjadi keributan sebab pasien menolak untuk dipisahkan. Namun, keributan tersebut tak sampai berupa cacian bahkan pengusiran.

“Saat pengecekan lapangan, sempat terjadi sedikit keributan karena pasien sempat menolak untuk dipisahkan dan diarahkan namun tidak benar bahwa terjadi pengusiran maupun caci maki,” ucap dia.

Hal senada dikatakan Lurah Gumuruh, Nurma Safarini. Dia memastikan, keterangan yang diunggah dalam akun Instagram tersebut tidak benar. Dia pun meminta pada pengguna media sosial agar melakukan klarifikasi dulu apabila menerima informasi.

“Tidak benar. Jadi kalau apa-apa masyarakat mungkin ingin disebut lebih viral itu melalui media sosial. Jadi untuk netizen juga tolong diklarifikasi dulu, segala upaya sudah dilakukan baik itu oleh pemerintahan, kepolisian dan juga oleh dari TNI, itu sudah luar biasa lah. Nah, sekarang tinggal masyarakatnya nih yang penderitanya,” kata dia.

Nurma menambahkan, jika ada warga yang terinfeksi, sebaiknya melakukan isolasi secara mandiri terlebih dahulu dan melapor ke petugas Satgas Covid setempat. Nantinya, petugas akan melakukan tracing atau pelacakan.

(rif/pojoksatu)