Sindiran Epidemiolog UI untuk Penolak PSBB atau Lockdown: Ada yang Mau Mengorbankan Jiwa?

Jalanan DKI Jakarta sepi akibat wabag virus coroa atau COVID-19. Foto Jawa Pos
Jalanan DKI Jakarta lengang akibat wabah virus corona atau Covid-19 pada awal penerapan PSBB. Foto Jawa Pos

POJOKSATU.id, JAKARTA – Satu-satunya cara untuk menekan sekaligus antisipasi agar tidak terjadi lonjakan Covid-19 seperti di India, Pemerintah Indonesia harus menarik rem darurat secepatnya.

Dengan kembali memberlakukan kebijakan di awal pandemi Covid-19 pada April 2020 silam.

Yakni menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau lockdown.

Itu mengingat lonjakan Covid-19 pasca libur lebaran kemarin kini menjadi semakin tidak terkendali.


Di sisi lain, rumah sakit di sejumlah daerah pun sudah mengalami overload.

Hari ini, Jumat (18/6/2021), kasus baru Covid-19 di Indonesia menembus rekor 12.990 kasus.

Apalagi, masih ditambah dengan merebaknya virus Covid-19 varian baru Delta mutasi India yang jauh lebih cepat menular dan menyebar.

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono menilai, penguncian wilayah itu dinilai menjadi yang paling efektif.

“Sehingga kalau lockdown, anak-anak muda tak ada lagi kesempatan berkerumun, berkumpul. Semuanya lockdown, harus dikunci,” ujarnya kepada JawaPos.com (jaringan PojokSatu.id), Jumat (18/6/2021).