Utang PLN Capai 500 Triliun, Ekomon Senior Sebut Kebanyakan Dipakai Investssi

Pemadaman listrik
PLN/Ilustrasi. (net)

POJOKSATU.id, JAKARTA- Ekonom senior Faisal Basri menilai, utang PLN 451 triliun pada 2020 atau turun Rp 2 triliun dibanding 2019 tidak dipakai untuk berfoya-foya. Melainkan hampir semuanya dipakai untuk investasi.


“Utang PLN tidak dipakai untuk foya-foya. Hampir semua dipakai untuk investasi. Hanya sebagian kecil untuk menjaga cashflow (arus kas),” kata Faisal dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/6/2021).

Menurut Faisal, PLN mencatatkan penambahan utang Rp 199 triliun pada periode 2015-2020.

Namun, nilai investasi PLN pada periode yang sama mencapai Rp 448 triliun, lebih banyak dibanding keseluruhan penambahan utang PLN di periode 2015-2020.


Wujud investasi itu antara lain penambahan aset berupa pembangkit total 10.000 megawatt, transmisi sepanjang 23.000 kilometer sirkuit, dan gardu induk total 84.000 MvA.

Bagi masyarakat, manfaat investasi PLN dirasakan dalam bentuk peningkatan rasio elektrifikasi. Dari 88,3 persen menjadi 99,2 persen.

Dengan kata lain, hampir seluruh wilayah Indonesia sudah terjangkau layanan kelistrikan dari PLN.

“PLN ini BUMN aset terbesar, sampai April 2021 mencapai Rp 1.599,5 triliun. Harus kita jaga bersama-sama. Tidak ada BUMN lain dengan aset sebesar ini,” ujar Faisal.

Tak hanya itu, pernyataan Faisal juga dikuatkan oleh laporan keuangan PLN dan sejumlah BUMN. BRI dan Bank Mandiri punya aset masing-masing Rp 1.387 triliun dan Rp 1.001 triliun.

Sementara Pertamina Rp 984 triliun. Ada pun Aset BNI dan BTN masing-masing bernilai Rp 709 triliun dan Rp 297 triliun. BUMN lain beraset total di bawah PLN, Pertamina, dan empat bank pemerintah tersebut.

Ia salut dengan tata kelola keuangan PLN yang tetap untung meski harga listrik tidak naik sejak 2017. Padahal, sumber pendapatan PLN hanya dari menjual daya.

“Ongkos naik terus, harga tidak boleh dinaikan,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN, Erick Thohir menyebut, utang PT PLN (Persero) mencapai Rp 500 triliun. Meski begitu, dia tidak merinci sumber utang perseroan pelat merah tersebut.

Kementerian BUMN selaku pemegang saham menilai dengan utang yang menggurita itu, diperlukan langkah penyehatan. Dengan demikian, PLN bisa menjaga cash flow-nya.

“PLN itu utangnya Rp 500 triliun. Tidak ada jalan kalau PLN itu segera disehatkan,” ujar Erick dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR, Kamis (3/6/2021).

(fir/pojoksatu)