Jaksa Singgung Status Imam Besar Habib Rizieq, “Hanya Isapan Jempol Belaka”

Habib Rizieq Shihab bacakan pledoi di pengadilan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Status Imam Besar Habib Rizieq (HRS) disinggung jaksa saat membacakan replik atas pledoi HRS. Jaksa menyebut status imam besar hanya isapan jempol belaka.

Jaksa kini menyerang balik Habib Rizieq Shihab (HRS).

Jaksa menyebut perangai Habib Rizieq mudah mencela orang lain.

“Seharusnya terdakwa menguraikan kekesalannya bukan di sini tempatnya. Jangan berkoar-koar tanpa dalil yang kuat,” kata jaksa saat membacakan replik atas pleidoi dalam sidang di PN Jaktim, Senin (14/6/2021).


“Kemudian ada kata-kata hujatan, mudah sekali menghujat orang lain,” ucapnya.

Dalam perkara ini Habib Rizieq didakwa membuat keonaran berkaitan dengan penyebaran hoaks tes swab di RS Ummi Bogor.

Habib Rizieq dituntut 6 tahun penjara.

Serangan balik jaksa itu sebagai tanggapan atas nota pembelaan Rizieq sebelumnya yang dibacakan dalam sidang pada Kamis, 10 Juni 2021.

Jaksa menyebut emosi Rizieq tak terkontrol karena sembarangan menuding berbagai pihak.

“Emosi tanpa kontrol dan mengaitkan orang lain dalam pembelaan yang tidak ada hubungannya sama sekali, di antaranya perkara Ahok, juga menghubungkan dengan Abu Janda, Ade Armando, Denny Siregar,” katanya.

“Selain dari pada itu, menghubungkan dengan Diaz Hendropriyono yang semuanya tidak ada nyambungnya,” ucapnya.

“Habib Muhammad Rizieq terlalu banyak menyampaikan keluh kesahnya yang hampir tidak ada hubungannya dengan pokok perkara yang sedang disidangkan, di antaranya oligarki anti Tuhan, entah ditujukan kepada siapa oligarki anti Tuhan tersebut, padahal seluruh warga negara berketuhanan dengan sah,” katanya.

Menurut jaksa, Habib Rizieq sembarangan menuding jaksa dan sejumlah tokoh sebagaimana dalam pleidoi Habib Rizieq yang dibaca pada Kamis, 10 Juni kemarin.

Jaksa menuding Rizieq sering mengumpat dengan kata-kata yang tidak etis.

“Sudah biasa berbohong, manuver jahat, ngotot, keras kepala iblis mana yang merasuki, sangat jahat dan meresahkan, sebagaimana dalam pleidoi,” katanya.

“Kebodohan dan kedungungan, serta kebatilan terhadap aturan dijadikan alat oligarki sebagaimana pada pleidoi,” katanya.

“Kalimat-kalimat seperti inilah dilontarkan terdakwa dan tidak seharusnya diucapkan yang mengaku dirinya berakhlakul karimah, tetapi dengan mudahnya terdakwa menggunakan kata-kata kasar sebagaimana di atas,” katanya.

“Padahal status terdakwa sebagai guru, yang dituakan, tokoh, dan berilmu ternyata yang didengung-dengungkan sebagaimana imam besar hanya isapan jempol belaka,” imbuh jaksa.

Dalam perkara ini Habib Rizieq didakwa membuat keonaran berkaitan dengan penyebaran hoaks tes swab di RS Ummi Bogor.

Habib Rizieq dituntut 6 tahun penjara. (ral/pojoksatu)