Ketua MPR Minta Pemerintah Kaji Ulang Pajak Sembako, Ini Berpotensi Makin Memberatkan Masyarakat

Ketua MPR Bambang Soesatyo
Ketua MPR Bambang Soesatyo

POJOKSATU.id, JAKARTA— Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta pemerintah mengkaji ulang rencana pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap bahan pokok atau sembako.


Menurut pria akrab dipanggil Bamsoet itu, apabila rencana tersebut dilakukan, berpotensi semakin menambah beban kehidupan masyarakat.

“Meminta pemerintah mengkaji ulang secara sosiologis baik dari sisi produksi ataupun konsumsi terhadap rencana tersebut,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/6/2021).

“Karena kenaikan PPN terhadap bahan pokok sangat berpotensi semakin memberatkan kehidupan masyarakat,” sambungnya.

Menurut Bamsoet, apabila PPN terhadap sembako diberlakukan, hal ini akan semakin menurunkan daya beli masyarakat.

Sebab, kata politisi Partai Golkar itu, saat ini perekonomian masyarakat masih belum sepenuhnya pulih sejak terjadinya virus corona atau Covid-19.

Oleh karena itu, Bamsoet meminta pemerintah mencari alternatif lain untuk meningkatkan pendapatan negara, tanpa harus membebani masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

“Meminta pemerintah mencari cara untuk meningkatkan pendapatan negara tanpa membebankan masyarakat dengan PPN terhadap bahan pokok di tengah situasi pandemi Covid-19, termasuk apabila ingin memperluas basis pajak,” tandasnya.

Rencana pengenaan PPN terhadap barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak tertuang dalam Pasal 4A draf revisi UU KUP.

Dalam draf beleid tersebut, barang kebutuhan pokok serta barang hasil pertambangan atau pengeboran dihapus dalam kelompok jenis barang yang tidak dikenai PPN.

Dengan penghapusan itu berarti barang itu akan dikenakan PPN.

Jenis-jenis kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan masyarakat dan tak dikenakan PPN itu sendiri sebelumnya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 116/PMK.010/2017.

Barang tersebut meliputi beras dan gabah; jagung; sagu; kedelai; garam konsumsi; daging; telur; susu; buah-buahan; sayur-sayuran; ubi-ubian; bumbu-bumbuan; dan gula konsumsi.

Sedangkan hasil pertambangan dan pengeboran yang dimaksud seperti emas, batubara, hasil mineral bumi lainnya, serta minyak dan gas bumi. (muf/pojoksatu)

Loading...