‘Diserang’ Massa di Rumah Duka, Kapolda Papua: Kita Biasa Saja dan Tidak Apa-apa

Kapolda Irjen Pol Mathius D Fakhiri memberikan salam kepada warga yang datang melayat di rumah duka, Sabtu (22/5) malam. (Foto: Elfira/Cepos)

POJOKSATU.id, JAYAPURA- Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri membantah dirinya diserang massa saat berada di rumah jabatan Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, Sabtu (22/5) malam.

Menurut Kapolda, aksi ‘penyerangan’ di rumah duka di Dok V Atas, Distrik Jayapura Utara adalah budaya dan adat-istiadat masyarakat setempat.

“Kalau orang yang tidak tahu pasti mereka kaget. Padahal itu sudah biasa dan budaya,” tegas Kapolda Mathius Fakhiri, dikutip dari Cenderawasih Pos, Senin (24/5).

“Saya membantah adanya penyerangan terhadap Kapolda. Itu tidak benar sama sekali, itu salah dan tidak ada dasarnya,” sambungnya.


Kapolda mengaku memahami budaya di tanah Papua, apalagi masyarakat yang merupakan saudara-saudaranya dari pegunungan.

“Saya memahami betul, sehingga kita biasa saja dan tidak apa-apa. Setelah mereka meluapkan kemarahannya, saya malah balik duduk di samping jenazah dan ditemani mereka,” jelasnya.

Menurut Kapolda, dalam kebudayaan sebagian orang Papua, jika ada berita duka, mereka meluapkan kemarahannya.

“Memang budaya seperti ini pelan-pelan harus kita tinggalkan. Karena kita punya anak istri dan keluarga yang tidak ada campur apa-apa. Kasihan saudara-saudara kita meluapkan kemarahan kepada istri dan meminta penjelasan, itu yang terjadi semalam,” tuturnya.

Lempar Rumah

Kapolda menjelaskan, dalam kebiasaan sebagian orang Papua, setelah kumpul-kumpul di rumah duka, mereka melakukan waita, tarian tradisional masyarakat pegunungan tengah.

Setelah itu, mereka melontarkan suara kasar. Bahkan mereka melempar rumah.

Selanjutnya, mereka berkumpul dan meminta penjelasan kenapa yang bersangkutan meninggal dunia.

“Setelah dijelaskan penyebab kematian, mereka datang secara berkelompok sembari duduk menangis di depan peti jenazah,” ucapnya.

“Setelah itu, mereka keluar secara tenang dan bagi rejeki lalu bubar. Itulah yang terjadi semalam,” sambungnya.

Kapolda mengaku berada di rumah dinas almarhum bersama masyarakat hingga pukul 01:30 WIT.

Di mata Kapolda, Wagub Papua, Klemen Tinal merupakan sosok yang cukup tegas, responship dalam semua persoalan dan sangat bersahabat.

“Selaku Kapolda, saya merasa kehilangan sosok beliau yang selalu berkomunikasi baik dengan saya untuk melihat papua secara keseluruhan, kita selalu berkolaborasi,” kenang Kapolda.

Kapolda Papua beserta seluruh keluarga besar Polri beserta Bhayangkarinya turut berbelasungkawa atas kepergian almarhum Klemen Tinal, putra terbaik Papua. (cepos/pojoksatu)