Politisi PKB Sebut Pernyataan AM Hendropriyono Sangat Aneh dan Tak Mendasar

AM Hendropriyono

POJOKSATU.id, JAKARTA— Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanulhaq mengomentari pernyataan eks Kepala BIN AM Hendropriyono yang menyebut Palestina dan Israel bukan urusan Indonesia, melainkan urusan bangsa Yahudi dan Arab.

Menurut politisi PKB ini, pernyataan Hendropriyono tersebut sangat aneh dan tidak mendasar menyebutkan hal seperti itu.

“Makanya pernyataan Pak Hendropriyono itu sangat aneh dan tidak mendasar,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/5/2021).

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengatakan tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak ikut terlibat dalam menudukung Palestina.


Sebab, konstitusi sudah mengamanahkan Indonesia untuk berperan aktif dalam perdamaian dunia.

“Ini amanah Undang-Undang (UU),” kata Maman.

Karena itu, ia mengapresiasi peran yang dilakukan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi.

“Makanya, kami mengapresiasi peran yang dilakukan Menlu Retno dengan mendorong negara-negara di OKI untuk menguatkan kembali diplomasi untuk menekan agresi dan aneksasi Israel,” pungkasnya.

Sebelumnya, AM Hendropriyono, menyebutkan Palestina dan Israel bukanlah urusan Indonesia, melainkan urusan bangsa Arab dan Yahudi.

“Urusan Indonesia adalah nasib kita dan hari depan anak cucu kita,” kata AM Hendropriyono dalam keterangannya di Jakarta pada Rabu (19/5).

Pernyataan Hendropriyono tersebut disampaikan menanggapi maraknya pro-kontra dukung-mendukung perang Israel-Palestina.

Ia menyampaikan keprihatinannya yang disampaikan kepada teman-teman sesama anggota Kerukunan Keluarga (KEKAL) Akmil 1967.

“Untuk nasib bangsa kita, saya mohon KEKAL Akmil 1967 tidak diam saja, tapi mikir, ngomong dan berbuat sebisanya,” katanya.

“Negara kita sedang diserang oleh pemikiran ideologi khilafah,” kata Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) tersebut.

Menurut Hendropriyono, banyak orang sudah terbawa arus pengkhianatan mendukung ideologi khilafah, liberalisme, kapitalisme, komunisme.

“Atau ideologi asing apa pun. Ada pula oknum aparat militer dan polisi, ASN, serta politisi yang mendukung khilafah,” jelasnya. (muf/pojoksatu)