AS Tak Ingin Ada ‘Perdamaian’ Palestina-Israel, Keluarkan Hak Veto Tiga Kali

Palestina
Penampakan Kota Gaza, Selasa (18/5/2021) dini hari, yang terus digempur zionis Israel. Foto : Instagram/@muhammadhusein_gaza

POJOKSATU.id, JAKARTA — Amerika Serikat kembali mengambil sikap berbeda menanggapi konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina.

Sudah tiga kali, Amerika Serikat lagi-lagi mengambil hak veto untuk menghentikan upaya dewan keamanan PBB menyikapi konflik Israel dan Palestina.

Pada pertemuan darurat Dewan Keamanan (DK) PBB pertama pada Minggu (10/5) sampai Rabu (12/5) , Amerika Serikat juga mengambil sikap serupa.

Kemudian pada pertemuan darurat DK PBB yang kedua kalinya pada Kamis (13/5) kemarin, juga tidak ada keputusan bersama semua anggota DK PBB terkait konflik Israel Palestina.


Pada pertemuan kedua tersebut, dilansir dari AFP, sebetulnya 14 dari 15 anggota dewan mendukung adopsi deklarasi bersama untuk mengurangi ketegangan antara Israel dan Palestina.

Namun, Amerika Serikat – yang merupakan sekutu dekat Israel – menentang hal itu.

Amerika Serikat menilai DK PBB cukup mengeluarkan sebuah pernyataan keprihatinan. Menurutnya, deklarasi bersama “kontraproduktif”.

Lantaran tidak mendapatkan suara bulat, akhirnya tiga negara anggota DK PBB, Tunisia, Norwegia dan China meminta agar pertemuan darurat kembali digelar.

Menurut seorang diplomat, gagasan pertemuan ketiga dalam waktu kurang dari seminggu didorong oleh Palestina.

Tujuan dari pertemuan baru tersebut sebetulnya untuk mencoba berkontribusi pada perdamaian dan agar Dewan Keamanan dapat mengekspresikan dirinya dan menyerukan gencatan senjata.

Namun lagi-lagi, pada pertemuan ketiga, yang digelar pada Minggu (16/5) sampai Senin (17/5) kemarin kembali menemui jalan buntu.

Pasalnya Amerika Serikat kembali memblokir diadopsinya pernyataan gabungan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang menyerukan penghentian kekerasan antara Israel dan Palestina.

Pemblokiran oleh AS dalam forum Dewan Keamanan (DK) PBB ini pun memicu digelarnya serangkaian sesi tertutup darurat yang baru pada Selasa (18/5) waktu setempat.

Draf yang disusun oleh China, Tunisia dan Norwegia itu diserahkan pada Minggu (16/5) tengah malam untuk disetujui 15 negara anggota DK PBB pada Senin (17/5) waktu setempat, dimentahkan AS, saat jet-jet tempur Israel terus menggempur Jalur Gaza dan total korban tewas akibat pertempuran sepekan terakhir melebihi 200 orang.

Dituturkan salah satu diplomat PBB kepada AFP bahwa AS mengindikasikan ‘saat ini tidak bisa mendukung pernyataan’ oleh DK PBB.

3 pertemuan DK PBB yang lalu pun diakhiri tanpa mencapai posisi bersama — dengan AS sebagai sekutu dekat Israel dituduh sengaja menghalangi upaya DK PBB.

Karena itulah, misi diplomatik Norwegia untuk PBB mengumumkan bahwa DK PBB akan menggelar pertemuan tertutup darurat yang terbaru untuk membahas konflik Israel-Palestina pada Selasa (18/5) waktu setempat.

Dengan demikian ini menjadi pertemuan keempat sejak 10 Mei.

“Situasi di lapangan terus memburuk. Warga sipil yang tidak bersalah terus terbunuh dan mengalami luka-luka. Kami ulangi: Hentikan serangan. Akhiri permusuhan sekarang,” demikian pernyataan delegasi diplomatik Norwegia via Twitter.

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menjelaskan betapa pentingnya posisi terkonsolidasi terkait konflik tersebut.

Suara yang kuat dan bersatu dari DK PBB, menurutnya akan berpengaruh atas konflik Israel dan Palestina.

“Saya sungguh-sungguh akan menyatakan kembali perlunya suara yang sangat kuat dan bersatu dari Dewan Keamanan, yang menurut kami akan berpengaruh,” tegasnya.

Untuk diketahui, penolakan AS mendukung pernyataan gabungan DK PBB menuai rasa heran dari sekutu-sekutunya.

“Kami hanya meminta AS mendukung pernyataan Dewan Keamanan yang akan menyatakan hal-hal serupa yang mungkin disampaikan secara bilateral dari Washington,” ucap salah satu diplomat PBB yang enggan disebut namanya kepada AFP. (ral/int/pojoksatu)