Cina Akui Efektivitas Vaksin Sinovac Lemah, dr Tifa Undang 100 Dokter

Dr Tifauzia Tyassuma alis dr Tifa

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ahli epidemiologi dr Tifauzia Tyassuma menanggapi pernyataan Direktur Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) China Gao Fu yang menyebut efektivitas vaksin Sinovac lemah.

Dokter cantik yang akrab disapa dr Tifa ini berharap agar kelemahan yang diungkap pejabat Cina itu keliru. Sebab, vaksin Sinovac ini paling banyak digunakan di Indonesia.

Akademisi dan peneliti dari Lembaga Ahlina Institute tersebut ingin menguji efektivitas vaksin Sinovac dan mengundang 100 dokter untuk menjadi relawan.

“Saya mengundang relawan khusus dokter di seluruh Indonesia sebanyak 100 orang. Untuk melakukan pemeriksaan antibodi pasca vaksinasi dengan Sinovac,” kata dr Tifa, dikutip dari aku Facebook miliknya, Tifauzia Tyassuma.


Dengan keterlibatan 100 dokter untuk memeriksa antibodi orang yang sudah pernah divaksin, maka akan diketahui efektivitas vaksin Sinovac.

“Kita sama-sama membuktikan. Bahwa kata-kata CEO Sinovac ini keliru. Mungkin dia ngacok atau sedang mabok ketika bilang bahwa vaksin bikinan perusahaannya tidak efektif dan punya kualitas buruk,” katanya.

“Padahal vaksin Sinovac adalah pilihan utama Pemerintah Indonesia, bahkan rencana akan didatangkan sebanyak 225 juta botol lagi,” sambungnya.

Menurut dr Tifa, keputusan pemerintah untuk kembali memesan vaksin Sinovac dalam jumlah yang sangat banyak perlu didukung dengan data yang valid.

“Apalagi dokter-dokter Indonesia terkesan puas sekali telah divaksin dengan vaksin merk ini. Tingkat kepuasan yang tinggi ini harus disertai dengan data tentunya, agar tidak terjebak dalam sugesti akibat efek plasebo belaka,” katanya.

Efektivitas Vaksin Sinovac Rendah

Dr Tifa mempersilahkan para dokter yang bersedia menjadi relawan pemeriksa antibodi untuk menghubunginya.

Ahli epidemiologi ini membagikan tautan berita berjudul “Akui Vaksin Buatannya Lemah Hadapi Covid-19, Sinovac Berikan Penjelasan”.

Dalam berita yang dilansir Pikiran Rakyat dari Associated Press itu disebutkan, pejabat pengendalian penyakit di Cina mengatakan efektivitas vaksin Sinovac rendah.

Karena itu, pemerintah Cina tengah mempertimbangkan mencampurkannya untuk memperkuat dosis.

“Tidak memiliki tingkat perlindungan yang sangat tinggi,” kata Direktur Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) China Gao Fu, seperti dilansir Associated Press.

“Sekarang dalam pertimbangan formal apakah kami harus menggunakan vaksin yang berbeda dari jalur teknis yang berbeda untuk proses imunisasi,” ujar Gao.

Pejabat pada konferensi pers yang diselenggarakan pada hari Minggu, 11 April 2021 waktu setempat itu tidak menanggapi secara langsung pertanyaan tentang komentar Gao atau kemungkinan perubahan dalam rencana resmi.

Namun, pejabat CDC lainnya mengatakan saat ini pengembang tengah mengerjakan vaksin berbasis mRNA.

“Vaksin mRNA yang dikembangkan di negara kami juga telah memasuki tahap uji klinis,” kata pejabat Wang Huaqing.

Namun, dirinya tidak memberikan garis waktu kapan kemungkinan penggunaannya.

Para ahli mengatakan mencampurkan vaksin atau urutan imunisasi, dapat meningkatkan efektivitas.

Sementara itu, para peneliti di Inggris saat ini tengah mempelajari kemungkinan kombinasi Pfizer-BioNTech dan vaksin AstraZeneca tradisional.

Menurut data Kemendagri Cina, vaksin yang dibuat dua produsen obat milik negeri tirai bambu itu yang terdiri dari Sinovac dan Sinopharm tersebut telah diekspor ke 22 negara termasuk Meksiko, Turki, Indonesia, Hongaria, Brasil.

Efektivitas vaksin Sinovac dalam mencegah infeksi gejala ditemukan terendah 50,4 persen oleh para peneliti di Brasil, mendekati ambang batas 50 persen di mana para ahli kesehatan mengatakan vaksin itu berguna. (one/pojoksatu)