Hilangkan 7 Nyawa, PK Pembunuh Berdarah Dingin Yulianto Ditolak Mahkamah Agung

Yulianto (pakai peci) pembunuh tujuh orang di Sukoharjo (ist)

POJOKSATU.id, JAKARTA — Mahkamah Agung (MA) menolak upaya hukum PK dari terdakwa Yulianto, pembunuh berdarah dingin asal Sukoharjo, Jawa Tengah, yang membunuh 7 orang.

Sebelumnya, pengadilan telah menjatuhkan hukuman mati kepada Yulianto (47) warga Sukoharjo, Jawa Tengah ini.

Tukang pijit berdarah dingin Yulianto ini terbukti menghabisi nyawa tujuh orang dalam periode waktu 2005 hingga 2010.

Kasus pembunuhan berantai ini bermula saat Yulianto dipinjami uang Rp 40 juta oleh Sugiyono pada tahun 2005.


Saat ditagih, Yulianto tidak mau membayar utang.

Yulianto tersinggung dan menghabisi nyawa Sugiyono saat Sugiyono sedang dipijitnya.

Setelah itu, mayat Sugiyono dikubur di samping kandang rumahnya.

Dua tahun kemudian, Yulianto menghabisi nyawa Suhardi saat sedang bersemedi di Gua Cermai, Bantul.

Mayat Suhardi dibiarkan di sebuah genangan air dan ditindih dengan batu besar.

Pembunuhan terus diulang hingga pembunuhan ketujuh, yaitu Kopda Santoso. Kala itu, Kopda Santoso datang ke Yulianto mau pijat badan.

Saat pijat itu, Yulianto dan Santoso terlibat percakapan yang membuat Yulianto tersinggung.

Yulianto kemudian membuat ramuan jamu dan menyerahkan ke Kopda Santoso untuk diminum.

Ternyata minuman itu sudah dicampur kecubung sehingga Kopda Santoso pusing dan sempoyongan.

Yulianto mencekik Kopda Santoso hingga meninggal.

Jenazah Kopda Santoso kemudian dikubur di dapur rumahnya.

Kematian Kopda Santoso membongkar kedok Yulianto si pembunuh berantai dengan tujuh korban.

Yulianto akhirnya diproses secara hukum dan diadili di Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo.

Pada 20 April 2011, PN Sukoharjo menjatuhkan hukuman mati kepada Yulianto. Hukuman mati itu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Semarang pada 5 Juli 2011.

Kasasi yang diajukan Yulianto juga tidak membuahkan hasil.

Ketua majelis Prof Velerina JL Kriekhoff dengan anggota Prof Rehngena Purba dan Zaharudin Utama menolak permohonan kasasi itu.

Upaya hukum terakhir dilayangkan ke MA, yaitu peninjauan kembali (PK).

Namun MA menolak PK terpidana Yulianto ini.

“Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana Yulianto bin Wir Sentono tersebut,” kata ketua majelis Sri Murwahyuni yang tertuang dalam salinan putusan sebagaimana dilansir website MA, Rabu (14/5/2021).

Majelis menyatakan PK Yulianto ditolak dengan alasan Yulianto terbukti telah membunuh korban Sugiyo tahun 2005 di rumahnya yang kemudian jasadnya dimakamkan di dekat kandang sapi.

Pada 2007, terdakwa telah membunuh korban Suhardi di Gua Cermai Bantul, Yogyakarta, yang jasadnya dikubur di Gua Cermai.

Pada tahun 2010, Terdakwa telah membunuh Kopda Santoso yang jenazahnya dikuburkan di dapur milik Terdakwa.

“Dan keseluruhan pembunuhan tersebut dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu,” ujar majelis PK.

Adapun empat korban lain tidak ditemukan karena dibuang di Gunung Merapi dan di gua di Parangtritis.

(ral/int/pojoksatu)