Pernyataan Said Aqil Siroj Soal Dosen Tidak Usah Banyak Ajarkan Aqidah, Novel Bamukmin Sebut Ketua PBNU Mengidap “Sepilis”

Wakil Sekjen PA 212 Novel Bamukmin
Wakil Sekjen PA 212 Novel Bamukmin

POJOKSATU.id, JAKARTA- Wasekjen DPP PA 212 Novel Bamukmin turut mengomentari pernyataan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj yang menyebut dosen agama di fakultas umum tingkat universitas untuk tidak terlalu banyak mengajarkan Aqidah dan Syariah guna menghindari pemahaman radikalisme.


Menurut Novel, pemahaman Said Aqil sudah bertentangan dengan isi Pancasila.

“Komen SAS sudah diduga menghianati pancasila atau SAS memahami Pancasila rasa RUU HIP atau BPIP yang unsur ketuhanan mau dibuang,” kata Novel saat dihubungi PojokSatu.id, Kamis (8/4/2021).

Novel lantas mengklaim, pihak siapa saja yang menolak aqidah atau tauhid diajarkan oleh para dosen ke mahasiswanya berarti orang tersebut diduga memilik faham komunis.

“Indonesia adalah negara tauhid yang menolak tauhid adalah komunis atau seminimal nimalnya ya sepilis itu. Yang jelas sepilis sudah diharamkan oleh MUI tahun 2005,” ujar Novel.

Apalagi, kata Novel, isi sila pertama berbicara tentang aqidah atau tauhid. Jadi, tidak pantas mengajarkan tauhid dikaitkan dengan radikal.

“SAS (Said Aqil Siroj) mengidap penyakit SEPILIS ( sekularisme, pluralisme dan liberalisme ) dengan realisasinya menolak tauhid diajarkan melalui para dosen karena sesungguhnya pancasila dengan sila pertama adalah tauhid,” sindirnya.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)Said Aqil Siroj meminta dosen agama di fakultas umum tingkat universitas untuk tidak terlalu banyak mengajarkan Aqidah dan Syariah. Menurutnya, hal itu dapat meningkatkan risiko peningkatan radikalisme.

“Bagi dosen agama yang mengajar agama di bukan fakultas agama, tidak usah banyak-banyak bincang akidah dan syariah. Cukup dua kali pertemuan. Rukun iman dan [rukun] islam,” Said Aqil dalam sebuah diskusi daring, Senin (5/4).

Berdasarkan Quran dan Hadist, kata Said Aqil, bahwa manusia tidak hanya ditugaskan untuk melakukan hal-hal terkait teologi atau ‘ilahiyah’ , tetapi juga menyangkut kemanusiaan.

Ia memberi contoh, seharusnya dosen-dosen harus mengembalikan masa kejayaan peradaban Islam. Delapan abad yang lalu, kata dia, intelektual Islam lebih maju dari Eropa dan China.

“Waktu itu Eropa masih tidur, China masih tradisional. Islam sudah maju luar biasa,” ucapnya.

“Bagaimana para ulama para pemikir para teknokrat sudah mencapai kemajuan teknologi yang luar biasa,” tambah dia.

(fir/pojoksatu)

Loading...