Polemik Lambang Garuda Ibu Kota Baru, Politisi PPP: Jangan Hanya di Istana Negara Saja

Arsul Sani

POJOKSATU.id, JAKARTA— Anggota Komisi III DPR RI Arsul Sani mengomentari polemik desain lambang Garuda di Istana Negara di Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur.

Di mana, lambang tersebut menggambarkan burung Garuda yang juga merupakan simbol negara Indonesia.

Menurut Arsul bahwa lambang tersebut merupakan perbedaan antara Ibukota sebelumnya yaitu Ibukota Jakarta dengan Kaltim.

“Ini bagus. Tetapi saya yakin itu salah satu cara untuk memberikan insting difecen (perbedaan) dengan Ibukota di Jakarta,” kata Arsul di Kompleks Senayan, Jakarta, Senin (5/4/2021).


Kendati demikian, Politisi Partai PPP itu meminta, lambang Garuda itu tidak hanya di buat untuk Istana Negara di Kaltim.

Akan tetapi, lanjut Asrul, semua gedung pemerintah. Khususnya, Gedung Parlemen dibuat lambang Garuda tersebut karena mencerminkan simbol kebangsaan.

“Saya berharap itu tidak hanya Istana saja, tetapi nanti semua gedung pemerintahan juga. Parlemen di sana itu juga mencerminkan simbol kebangsaan,” jelasnya.

Akan tetapi, Asrul enggan berkomentar lebih jauh lagi saat ditanyakan apakah pembahasan Ibukota baru efektif di tengah ekonomi masyarakat lagi gonjang ganjing karena dampak pandemi Covid-19.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi memuji desain istana negara di ibu kota baru. Desain Istana Negara ini berlambang burung garuda karya seniman I Nyoman Nuarta.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memuji desain istana negara di Ibu Kota baru. Ia menyebutkan Desain Istana Negara ini berlambang burung garuda karya seniman I Nyoman Nuarta.

“Usulan beliau sarat dengan filosofi lambang Burung Garuda sebagai pemersatu bangsa sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Jokowi memuji desain Nyoman dikutip dari akun Instagram-nya @jokowi, Sabtu, 3 April 2021.

Kendati demikian, kata orang nomor satu di Indonesia itu, usul dari Nyoman baru sebatas pradesain.

Desain dari Nyoman ini ditampung sebagai salah satu usul yang masuk saat Kementerian PUPR mengundang beberapa arsitek dan seniman.

“Usulan ini, sekali lagi, masih pada tahap pradesain,” ucap Jokowi.

“Karena itu, saya sangat mengharapkan masukan dari bapak, ibu, dan saudara-saudara semua tentang pradesain Istana Negara ini,” lanjut Jokowi.

Presiden menyebut, ia menginginkan Istana Negara tidak hanya dikenang sebagai tempat Presiden bekerja atau menjadi simbol kebanggaan bangsa, tapi juga mencerminkan kemajuan bangsa.

“Dengan masukan-masukan itu nantinya, saya akan mengundang kembali para arsitek dan para ahli lainnya untuk melakukan pengkayaan pradesain menjadi basic desain Istana Negara,” terangnya.

(muf/pojoksatu)