Ahli Ilmu Tulisan Baca Surat Wasiat Zakiah Aini dan Bom Gereja Katedral, Hasilnya Mengejutkan

Surat wasiat Zakiah Aini dan Lukman bomber Gereja Katedral Makassar

POJOKSATU.id, JAKARTA — Ahli ilmu tulisan membaca dan menganalisa surat wasiat pelaku penyerang Mabes Polri, Zakiah Aini (26) dan pelaku bomber Gereja Katedral Makassar, Sulsel.


Grafologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang tulisan. Ada dua jenis grafologi, yakni grafologi yang bernaung di bawah psikologi dan grafologi yang ada dalam bidang linguistik.

Ilmu ini untuk mempelajari kondisi psikologis seseorang lewat goresan tulisan tangannya.


Surat wasiat Zakiah Aini dan pelaku bomber Gereja Katedral Makassar, Lukman (26), cukup mengejutkan jika dibaca dari analisa Grafologi.

Lukman (26), pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar menulis surat wasiat untuk keluarganya.

Grafolog Deborah Dewi telah menganalisis tulisan tangan Lukman dan Zakiah Aini pada surat wasiat mereka.

Deborah adalah ahli grafologi yang telah memenuhi Standard Competence EC-0293 sebagai Graphologist Expert dan tervalidasi oleh Apostille The Hague Convention.

“Dari 2 kejadian berentet yang sedang melanda negara kita saat ini, keduanya meninggalkan jejak yang sama yaitu surat wasiat yang ditulis secara manual,” ungkap Dewi, Kamis (2/4).

“Meskipun gaya tulisan dan pola tulisan tangan keduanya berbeda tapi keduanya memiliki beberapa indikator yang secara grafis berbeda namun intepretasinya sama,” kata Dewi lagi.

Menurut hasil analisa Dewi, jika semua indikator grafis tersebut dikumpulkan menjadi satu dan dianalisis secara komprehensif, maka terdapat perbedaan signifikan dari segi karakter pelaku.

Begitu juga dari sisi pemicu internal yang mendorong mereka melakukan aksinya.

Menurut Dewi, beberapa pola indikator grafis yang berbeda. Namun mengacu pada satu benang merah intepretasi umum yang menjadi pemicu internal di antara karakter keduanya yaitu rasa cemas, tidak mampu, dan kurang percaya diri yang membuat mereka merasa tidak aman (insecurity).

“Secara verbal keduanya memberikan alasan berbau spiritual saat menjalankan aksinya. Namun, berdasarkan analisis grafologi, tidak ada dorongan spiritual kuat bagi mereka untuk menjalankan jihadnya,” tegasnya.

“Meskipun secara verbal mereka memberikan alasan yang berbau spiritual namun indikator grafis di dalam sampel tulisan tangan keduanya justru tidak menunjukkan dorongan spiritual yang kuat untuk mengeksekusi jihad,” tuturnya lagi.

Dewi menyebut bahwa dorongan utama Zakiah Aini adalah kemarahan atas status sosial yang dia sandang saat ini.

Sedangkan Lukman, dorongan utamanya adalah ketakutan akan masa depannya.

“Untuk Zakiah, dorongan yang utama adalah kemarahan atas status sosial (non material) yang melekat pada dirinya,” jelasnya.

“Sedangkan untuk Lukman dorongan yang utamanya adalah kemarahan dan ketakutan dalam menghadapi masa depan di kehidupannya yang akan sangat berdampak pada sang Ibu,” ujar Dewi seperti dilansir detikcom.

(ral/int/pojoksatu)