Yang Tuding Teror Bom Rekayasa dan Dipelihara, Fix Orang Gak Paham tapi Sok Paham dan Sok Ngerti

Tim Densus 88 Antiteror menggerebek teroris di Condet. Foto JawaPos.com

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto membeberkan strategi licik teroris dalam melakukan rangkaian sasaran teror bom bunuh diri.


Strategi licik yang diterapkan para teroris ini juga untuk menjawab tudingan sejumlah masyarakat yang beranggapan bahwa aksi teroris yang kerap terjadi di tanah air adalah rekayasa aparat hukum.

“Ketika melakukan penangkapan jaringan, tidak semua anggota jaringan dapat diungkap dan ditangkap karena ada sistem sel terputus sehingga mereka yang tidak disebut oleh tersangka yang ditangkap maka tidak terdeteksi oleh petugas,” kata Benny kepada PojokSatu.id, Selasa (30/3/2021).

Benny menyebut, jaringan teroris yang ada di Indonesia memang sifatnya rahasia, sama halnya dengan jaringan narkoba.


Di sisi lain, kata dia, masyarakat yang tak faham dengan kerja tim Densus 88 Antireror menyebabkan timbulnya beragam kecurigaan, seperti halnya menuding anggota teroris sebagai jaringan yang dipelihara oleh Polri.

Padahal, tudingan dan kecurigaan tersebut justru malah akan semakin membuat para teroris lebih eksis menyusun berbagai strateginya.

“Jadi, tidak mudah mengungkap jaringan yang bersifat rahasia, seperti jaringan teroris dan narkoba. Masyarakat yang tidak paham soal cara kerja teroris dan bagaimana cara kerja Densus 88, bisa menafsirkan yang salah atau curiga yang tidak berdasar,” ujarnya.