Vaksin AstraZeneca Mengandung Babi tapi Boleh Digunakan, Ini Penjelasan Ketua MUI

KH Miftachul Akhyar. Foto nu.or.id

POJOKSATU.id, JAKARTA – Vaksin Covid-19 AstraZeneca yang mengandung tripsin dari dari Universitas Oxford Inggris boleh digunakan.

Vaksin yang diproduksi SK Bioscience di Kota Andong, Korea Selatan, itu juga mendapatkan lampu hijau dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan alasan kedaruratan.

Vaksin Covid-19 AstraZeneca sendiri sudah melalui proses dan prosedur yang berlaku di Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetik (LPPOM) MUI.

Termasuk melihat dengan ayat-ayat maupun hadis. Menurutnya, LPPOM sudah memberi masukan terkait adanya unsur babi tersebut.


Demikian disampaikan Ketua MUI KH Miftachul Akhyar ditemui di Surabaya, sebagaimana dikutip dari Ngopibareng.id (jaringan PojokSatu.id), Sabtu (20/3).

“Di NU lain lagi. Ada keputusan atau fatwa dianggap unsur babinya sudah hilang. MUI dengan LPPOM melihat unsurnya masih ada, tinggal nanti bagaimana dibuktikan selanjutnya,” kata Miftachul di Surabaya, Sabtu (20/3).

Akan tetapi, Rais Aam PBNU ini memastikan vaksin AstraZeneca ini boleh digunakan karena pertimbangan keadaan darurat pandemi Covid-19.

AstraZeneca tersebut bisa digunakan jika tidak ada pilihan vaksin lain saat ini.

Menurut MUI, sambung Kyai Miftachul Akhyar, hajat yang ditempatkan di dalam keadaan darurat itu boleh tetapi terbatas.

“Artinya terbatas, kalau ada Vaksin Sinovac, maka ini (AstraZeneca) enggak boleh digunakan,” jelasnya.