Moeldoko Siap Keluarkan Jurus, Pengamat Sarankan Ini Untuk AHY dan SBY

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Foto JawaPos.com
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Foto JawaPos.com

POJOKSATU.id, JAKARTA- Pengamat Politik Zaenal Muttaqin menilai diamnya Moeldoko pasca Kongres Luar Biasa (KLB) tidak lain mengatur strategi politik.


Karena itu, Zaenal menyarankan kepada AHY dan SBY untuk tidak menganggap remeh diamnya Kepala Staf Kepresidenan (KSP) itu.

“Jurus pak Moeldoko seperti main catur, sayap rajanya dibiarkan terbuka Untuk diserang. Tapi mengatur strategi menyerang balik,” ujarnya dihubungi Pojoksatu.id di Jakarta, Rabu (10/3/2021).

Menurut Zaenal manuver politik yang dipakai mantan Panglima di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu seperti main catur.

Akan tetapi, lanjut Zaenal, pola main yang dipakai Moeldoko terkesan kasar karena melanggar konstitusi Partai berlambang mercy itu.

“Iya, ini ibarat orang yang main catur dengan lawannya. Cuma problemnya main kasar,” kata Kordinator Jaringan Progres 98 itu.

Senada, Pengamat Politik dari Universitas Brawijaya, Anang Sudjoko juga menilai demekian. Bahwa diamnya Moeldoko bagian dari strategi politik.

“Diamnya Moeldoko bisa jadi mengatur strategi atau dia bukan king player dari KLB,” ujarnya dihubungi Pojoksatu.id di Jakarta, Rabu (10/3/2021).

Tak hanya itu, ungkap Anang bisa jadi juga Moeldoko bukan king player atau aktor utama dari KLB itu sehingga harus hati-hati mengeluarkan statement.

“Harus hati-hati benar bicara di publik. Ada skenario besar yang bisa jadi menempatkan Moeldoko sebagai boneka,” tuturnya.

Dosen Universitas Brawijaya Malang itu juga menilai bahwa KLB yang dilakukan Moeldoko dkk merupakan pelanggan etika berpolitik.

“Saya menilai KLB kali ini sebagai pelanggaran etika berpolitik di era demokrasi sekarang,” terang Anang.

Anang juga menyesalkan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menko Polhukam, Mahfud MD tidak mencegah KLB yang di selenggarakan pada 5 Maret 2021 kemarin.

“Pemerintah melalui menko polhukam mengamini, maka patut diduga ada pihak istana yg mengetahui rencana KLB atau bahkan lbh dr sekadar mengetahui,” tandas Anang.

Karena itu, tambah Anang, merupakan hal yang wajar dalam dunia politik jika publik menilai bahwa KLB Deli Serdang itu di beking orang-orang dari Istana.

“Bisa orang atau sekelompok orang. Diamnya istana tdk menindak mowldoko merupakan signal bahwa org2 di istana ada di balik KLB,” pungkasnya.

(muf/pojoksatu)

Loading...